Lewoleba — Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq meninjau depot penyimpanan bawang merah milik Pemerintah Kabupaten Lembata di kawasan CWC, Wangatoa, Kelurahan Selandoro, Senin (5/10/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan fasilitas penyimpanan berfungsi optimal dan stok bawang merah tetap aman sebelum disalurkan ke pasar, terutama menghadapi potensi kenaikan harga menjelang akhir tahun.
Bupati Kanis Tuaq melihat langsung kondisi gudang, termasuk rak-rak penyimpanan yang telah terisi bawang merah serta sejumlah rak yang masih dalam proses pengerjaan. Ia meminta pengelolaan gudang dilakukan sesuai ketentuan teknis agar sirkulasi udara dan kelembaban tetap terjaga sehingga dapat menekan penyusutan pascapanen.
“Kalau disimpan di tanah saja, panasnya berlebihan dan bisa mempercepat proses penyusutan. Dengan adanya rak-rak ini, sirkulasi udara berjalan lebih baik sehingga bisa menahan laju penyusutan,” kata Bupati Kanis Tuaq.
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata, Ade Hasan Yusuf, mengatakan kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memastikan kesiapan stok bawang merah untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga di pasar.
Menurutnya, bawang merah dan cabai merupakan dua komoditas pangan yang kerap memberikan tekanan terhadap inflasi. Karena itu, pemerintah tidak hanya menyiapkan stok melalui fasilitas penyimpanan, tetapi juga mendorong produksi dari kebun-kebun petani agar pasokan tersedia ketika kebutuhan pasar meningkat.
“Langkah ini merupakan upaya pemerintah daerah dalam memasok bawang merah ke pasaran untuk menjaga stabilitas harga sehingga tidak terjadi inflasi yang tinggi di daerah,” ujar Ade Hasan.
Ia menjelaskan, fasilitas penyimpanan menggunakan rak untuk menjaga bawang tidak langsung bersentuhan dengan lantai. Sistem tersebut diharapkan memperbaiki sirkulasi udara dan mengurangi risiko kelembaban yang dapat mempercepat kerusakan serta penyusutan bawang.
Di sisi lain, pengelolaan gudang masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan rak dan tenaga kerja. Dinas Pertanian saat ini menyiapkan tambahan tiga rak untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan, sementara tenaga operasional masih didukung dari lingkungan Dinas Pertanian.
“Dari aspek gudang cukup representatif, tetapi rak penyimpanan masih kurang. Kami sedang membuat tiga rak lagi untuk menampung bawang-bawang yang ada,” kata Hasan.
Selain bawang merah, kawasan CWC Wangatoa juga diarahkan menjadi pusat hilirisasi produk pertanian Kabupaten Lembata. Bupati meminta kawasan tersebut ditata sebagai fasilitas yang dapat mendukung pengolahan dan penanganan pascapanen berbagai komoditas, termasuk jagung dan bawang merah.
Untuk jagung, pemerintah daerah merencanakan pembangunan fasilitas pemanasan guna mencapai kadar air sekitar 12 persen serta lantai jemur yang dapat digunakan untuk jagung dan komoditas pertanian lainnya. Fasilitas tersebut selanjutnya diarahkan menjadi bagian dari unit pelaksana teknis (UPT) yang menangani pekerjaan teknis hilirisasi produk pertanian.
Bupati juga mengarahkan agar pembentukan UPT tersebut dapat dipersiapkan pada 2026 sehingga pengelolaan fasilitas dan kegiatan hilirisasi dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
“Penataan kawasan ini penting karena ke depan bukan hanya bawang merah yang ditangani, tetapi juga jagung dan komoditas pertanian lainnya,” demikian disampaikan dalam kunjungan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Lembata berharap penguatan fasilitas penyimpanan dan hilirisasi dapat memperpanjang daya simpan hasil pertanian, mengurangi kehilangan pascapanen, memperkuat ketersediaan pangan, sekaligus mendukung upaya menjaga stabilitas harga komoditas strategis di pasar.
Langkah tersebut juga diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara produksi petani, pengelolaan pascapanen, penyimpanan, hingga distribusi ke pasar sehingga hasil pertanian daerah dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. (Prokompimkablembata)