Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


LPM Barakat Berikan Dukungan Pada Pelaksanaan Seremoni Penutupan Zona Inti Laut Oleh Lima Suku Dari Komunitas Adat Lewohala

Prosesi tersebut sekaligus menjadi undangan spiritual kepada para leluhur agar hadir dan memberkati pelaksanaan ritual adat yang dikenal dengan ungkapan adat “Gepa Mari, Amet Prat.”

Indonesiasurya
Jumat, 13 Maret 2026 | 07:55:06 WIB
Foto

Lembata – Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Barakat memberi dukungan pada pelaksanaan ritual adat muro, sebuah janji dan komitmen menjaga kelestarian laut melalui aturan adat oleh Masyarakat adat Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Rangkaian proses Muro di Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur itu diawali dengan ritual "Nawawatan Ai Kne", seremoni adat yang dilakukan oleh enam suku, yakni suku Matarau, dan beberapa suku lainnya. Dalam ritual awal tersebut, para tetua adat menyampaikan kepada para leluhur bahwa pada 18 Maret 2026 akan dilaksanakan pengukuhan Muro di Desa Todanara.

Prosesi tersebut sekaligus menjadi undangan spiritual kepada para leluhur agar hadir dan memberkati pelaksanaan ritual adat yang dikenal dengan ungkapan adat “Gepa Mari, Amet Prat.”

Direktur LSM Barakat, Benediktus Bedil, kepada pers di Lewoleba, Jumat (13/3/2026), menjelaskan bahwa ritual Muro merupakan hasil musyawarah masyarakat adat Desa Todanara yang tergabung dalam komunitas adat Lewohala.

Menurutnya, lokasi ritual adat tersebut berada di kawasan Moel, wilayah laut yang menjadi bagian dari kawasan Muro yang berlaku bagi komunitas adat Lewohala.

“Ritual ini adalah kesepakatan masyarakat adat. Kami dari Barakat tidak mengintervensi proses adatnya, hanya mendukung secara finansial agar kegiatan ini bisa terlaksana,” kata Ben Bedil.

Ia menjelaskan, ritual besar akan dilaksanakan pada 18 Maret 2026 di Desa Todanara dengan seremoni Puru Muro, yang menandai penutupan zona inti laut (tahi tuber) sebagai kawasan perlindungan yang tidak boleh diganggu aktivitas penangkapan ikan.

Selain zona inti, masyarakat adat juga menetapkan zona penyangga yang diperuntukkan bagi aktivitas tertentu secara terbatas, serta zona pemanfaatan yang penggunaannya bergantung pada kesepakatan adat.

Dalam seremoni besar tersebut juga akan dilaksanakan ritual “Muru Puru Naki Haki” yang dipimpin oleh lima suku besar, yakni Matarau, Pureklolon, Balawanga, Gesimaking, dan Lamatapo, yang bertugas menjalankan ritual besar sebagai Kabelen Lewo atau penjaga adat kampung.

Seremoni pengukuhan ini rencananya akan dihadiri oleh 52 suku serta sekitar 150 peserta, termasuk camat, para kepala desa tetangga, tokoh adat, serta masyarakat dari tiga desa, yakni Desa Todanara, Desa Jontona, dan Desa Watodiri (Waibaki).

Sebelum ritual puncak tersebut, masyarakat adat juga akan melaksanakan ritual kecil pada 14 Maret 2026 di Namawatan Ai Kne, yang dipimpin oleh suku Matarau sebagai bagian dari pengukuhan zona inti laut.

Dalam ritual besar nantinya, masyarakat adat juga menyiapkan 52 ekor ayam sebagai hewan korban adat, di luar ritual Atamolang yang juga menjadi bagian dari tradisi setempat.

Benedikus Bedil menjelaskan, tradisi Muro sebenarnya pernah hilang dan kembali digali pada tahun 2016 oleh masyarakat adat bersama pendampingan LSM Barakat.

Saat proses penggalian kembali nilai-nilai adat tersebut, masyarakat menemukan kembali konsep zonasi laut tradisional, di mana kawasan tertentu ditetapkan sebagai wilayah perlindungan ikan yang tidak boleh diganggu.

“Zona inti ini tidak boleh diganggu karena menjadi tempat berkembang biak ikan. Ini adalah kearifan lokal masyarakat yang ditemukan kembali saat proses penggalian Muro tahun 2016,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses persiapan menuju pengukuhan ritual Muro tahun ini memakan waktu sekitar tiga tahun, karena masyarakat adat harus melalui berbagai tahapan musyawarah untuk menyepakati tata cara, wilayah, serta waktu pelaksanaan ritual.

Menurut Ben Bedil, keberadaan Muro diharapkan tidak hanya menjadi ritual adat semata, tetapi juga menjadi solusi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

“Kami berharap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat di dunia modern bisa dijawab melalui kearifan lokal seperti Muro,” katanya.

Ia juga berharap peran media tidak hanya memberitakan ritual adat tersebut, tetapi juga mengawal keberlanjutan program konservasi yang lahir dari tradisi Muro, termasuk dukungan kebijakan dan alokasi anggaran bagi masyarakat adat.

Ini desa ke enam pendampingan Desa pelaksanaan Muro oleh LSM Barakat. LSM ini membantu menfasilitasi pranata adat untuk menjalankan tradisi Muro, menjaga kelestarian biota laut. (ATSL)


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Manis Semangka di Demplot Pemantik, Diprediksi Cuan Rp47 Juta, Perkuat Rantai Pasok Program MBG

Pada lahan seluas 600 meter persegi, berhasil dipanen awal sebanyak 44 buah semangka dengan total produksi mencapai 349

| Kamis, 30 April 2026
Sedimentasi dan Sampah Perparah Banjir Lewoleba, Penanganan Jangka Panjang Mendesak

Hujan deras selama sekitar dua jam cukup untuk melumpuhkan sistem drainase kota, memaksa air meluap dari kali dan seloka

| Kamis, 30 April 2026
Dorong Swasembada Pangan Nasional, Dinas Pertanian Flotim Gelar Tanam Serempak Padi di Konga

Plt. Kadis Pertanian Yosep Hadi Open, kegiatan ini bukan hanya simbolis namun, bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam

| Kamis, 30 April 2026
Pergub 68 Tahun 2025, Gubernur Melki Laka Lena Ajak Masyarakat Tingkatkan Produksi Jagung

Gema Agung NTT merupakan gerakan kolektif petani dan masyarakat yang difasilitasi pemerintah daerah untuk membangun eko

| Kamis, 30 April 2026
Ketua DPRD Lembata Harapkan Lembata Jadi Contoh Pembangunan Energi Terbarukan Lewat PLTP Atadei

Syafrudin berharap pihak pengembang dapat terus berkomitmen dalam menjalankan sosialisasi kepada masyarakat akan penting

| Kamis, 30 April 2026
Pengadilan Tinggi Diminta Tegas Usut Hakim Subai,Putusan Prapid 41 Melanggar Aturan

Andis menegaskan komitmennya untuk terus mengawal perkara ini hingga tuntas. Ia menekankan bahwa perjuangan ini bukan ha

| Kamis, 30 April 2026
Ibu Kota Kabupaten Lembata Terendam Banjir Setelah Diguyur Hujan Lebat

Air meluber ke permukiman warga hingga menutup sejumlah ruas jalan utama. Sampahnya pun berserakan di badan jalan.

| Rabu, 29 April 2026
Lembata Barometer Benih Misioner, Catatan dari Jambore Sekami 2026

Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yang memimpin perayaan Ekaristi penutup, memberikan pesan yang menohok seka

| Rabu, 29 April 2026
Pembebasan Lahan PLTP Ulumbu Buka Peluang Ekonomi Baru bagi Warga Poco Leok

Pembangunan jalan akses ini menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan PLTP Ulumbu Unit 5-6, yang nantinya akan

| Rabu, 29 April 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 9