Lembata - Suara merdu paduan suara siswa SMPK St. Don Bosko Aliuroba, memukau ribuan peserta upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-66, di Desa Roho, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Sabtu. 2 Mei 2026.
Kidung indah yang dilantunkan menggambarkan kebersamaan dan kekompakan pada harapan akan masa depan pendidikan yang lebih baik.
Meski persiapan dalam waktu yang kasip, Aloysius Juanda guru yang memimpin paduan suara berhasil menghipnotis peserta apel penringat hardiknas tersebut.
Untuk mematangkan penampilan para pelajar tersebut, paduan suara siswa SMPK Santu Don Bosco Aliuroba juga mendapat dukungan, Brome Chordae serta alumni pendidikan musik Unwira Kupang.
Lagu Lembata Helero, soka Toja maupun lagu berbahasa daerah Kedang Eyeng-eyeng lae’ te hoko (yang bermakna “pagi-pagi harus segera bangun”) yang di ciptakan perintis pendidikan Kedang Petrus Claver Ohaq Leuweheq berhasil menghidupkan suasana dan mengundang antusiasme para hadirin.
Salomon Kurniawan, Kepala Sekolah SMPK St. Don Bosko Aliuroba, mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan para siswa bersuara lewat lagu yang di bawakan.
Salomon mengatakan, paduan suara ini bukan, sekedar ikut meriahrayakan peringatan hari pendidikan (hardiknas) namun juga sebagai upaya memperkenalkan sekolah tersebut pada kalangan luas.
“Kami ingin mempromosikan sekolah sekaligus memupuk kebersamaan antara siswa dan guru. Syukur, kepanitiaan dan tim yang terlibat cukup kompak,” ujarnya.
Di balik penampilan yang mengesankan, tersimpan pula tantangan yang dihadapi sekolah. Kondisi bangunan yang belum layak pakai menjadi kendala serius, terutama saat musim hujan.
Atap seng dan plafon yang bocor memaksa aktivitas belajar mengajar dipindahkan ke ruangan yang masih memungkinkan digunakan.
“Kalau hujan, siswa harus dialihkan ke ruang lain yang lebih aman,” tambah Salomon.
Meski demikian, semangat untuk terus maju tidak surut. Harapan besar pun disematkan agar kualitas pendidikan di Kecamatan Buyasuri semakin meningkat dari tahun ke tahun.
“Tahun ini semoga lebih baik. Kami ingin pendidikan di Buyasuri terus berkembang,” tutupnya.
Penampilan paduan suara SMPK St. Don Bosko Aliuroba menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Dari ruang-ruang sederhana yang kadang bocor saat hujan, lahir suara-suara penuh harapan yang menggema hingga ke panggung Hardiknas.