FLORES TIMUR – Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Flores Timur terus gencar menekan angka keberangkatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara nonprosedural atau ilegal.
Pada Selasa (16/06/2026), Disnaker menggelar kegiatan edukasi dan sosialisasi pencegahan pekerja migran ilegal yang bertempat di Desa Lewobelen, Kecamatan Lewolema kabupaten Flores Timur.
Menariknya, kegiatan krusial ini dikoordinatori oleh Dominikus Butun Tobil, seorang mahasiswa dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang.
Keterlibatan aktif akademisi muda ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara pemerintah, instansi pendidikan, dan masyarakat dalam memerangi isu human trafficking atau tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan
Sebagai koordinator lapangan, Dominikus Butun Tobil menekankan bahwa edukasi ini bertujuan untuk membuka mata masyarakat, khususnya generasi muda dan para orang tua di Desa Lewobelen, mengenai besarnya risiko jika nekat berangkat ke luar negeri tanpa dokumen resmi.
"Kami tidak melarang warga untuk mencari nafkah di luar negeri. Namun, yang kami tegaskan adalah jalurnya harus legal. Menjadi pekerja migran ilegal sangat rentan terhadap penipuan, eksploitasi, hingga kekerasan fisik karena tidak ada perlindungan hukum dari negara," ujar Dominikus, mahasiswa Unwira Kupang tersebut di hadapan warga Desa Lewobelen.
Ia juga menambahkan bahwa Kecamatan Lewolema harus menjadi benteng pertahanan pertama dalam menangkal bujuk rayu para calo atau agen perekrut nakal yang kerap memberikan iming-iming gaji besar dengan proses instan.
Kolaborasi Disnaker dan Elemen Kampus
Tim dari Dinas Ketenagakerjaan Flores Timur mengapresiasi langkah taktis yang diinisiasi oleh Dominikus.
Dalam sesi tersebut, Disnaker membagikan informasi transparan mengenai tahapan-tahapan resmi yang wajib dilalui oleh seorang calon PMI—mulai dari pendaftaran di kantor dinas resmi, pelatihan kompetensi, hingga kepemilikan dokumen asuransi penempatan.
Pihak Pemerintah Desa Lewobelen menyambut baik inisiatif sosialisasi ini.
Kehadiran sosok mahasiswa seperti Dominikus dinilai mampu mencairkan suasana sehingga komunikasi dengan warga terjalin lebih hangat, interaktif, dan mudah dipahami. Pemerintah desa juga berkomitmen untuk memperketat pengawasan administratif terhadap warga yang berniat bekerja ke luar negeri.
Melalui sosialisasi yang digerakkan oleh kolaborasi Disnaker Flores Timur dan mahasiswa Unwira Kupang ini, diharapkan warga Desa Lewobelen semakin cerdas dan selektif, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban dari sindikat pengiriman pekerja migran ilegal.