Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Tentara dan Polisi Kerja Kebun?

Oleh Gerardus D Tukan Prodi Teknologi Pangan, FST UNWIRA Kupang

Indonesiasurya
Kamis, 11 Juni 2026 | 09:17:39 WIB
Gerardus D Tukan dosen Unwira Kupang

Dewasa ini kita semakin sering menyaksikan anggota TNI mengoperasikan alat pertanian, membuka lahan, mondar mandir di kebun, panen, damping petani dan lain-lain. Para polisi juga begitu, Mulai terlibat urus tanam jagung, atur jarak tanam dan barisan tanaman yang harus lurus, dan lain-lain. Pada saat yang sama, pemerintah juga meningkatkan berbagai program perekrutan personel militer dan kepolisian serta memperluas keterlibatan mereka dalam pembangunan nasional.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang menarik: apakah negara sedang menyiapkan aparat keamanan sebagai solusi atas semakin menurunnya minat generasi muda menjadi petani? Ataukah keterlibatan aparat tersebut sekadar strategi jangka pendek untuk mempercepat pencapaian target ketahanan pangan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, untuk menjawabnya perlu dilihat dalam konteks transformasi sosial dan ekonomi pedesaan Indonesia.

Hasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa jumlah usaha pertanian perorangan turun sekitar 7,45 persen dibandingkan tahun 2013. Selain itu, petani milenial hanya sekitar 21,93 persen dari total petani Indonesia. Mayoritas petani saat ini berasal dari kelompok usia yang semakin menua. Pada saat yang sama, lebih dari 17 juta petani tergolong petani gurem dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektar. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis regenerasi petani yang nyata.

Fenomena tersebut bukan karena generasi muda malas bekerja. Masalah utamanya justru terletak pada struktur ekonomi pertanian yang kurang menarik. Pendapatan petani relatif rendah dan tidak stabil akibat risiko gagal panen, perubahan iklim, fluktuasi harga, serta lemahnya posisi tawar petani di pasar. Selain itu, lahan pertanian yang diwariskan dari generasi ke generasi semakin terfragmentasi sehingga sulit menjadi sumber penghidupan yang layak bagi keluarga muda.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah perubahan aspirasi sosial. Selama puluhan tahun, pendidikan formal lebih banyak menampilkan profesi pegawai negeri, dokter, guru, atau karyawan perusahaan sebagai simbol keberhasilan. Di sisi lain, perkembangan media sosial dan teknologi digital memperkuat citra bahwa pekerjaan modern identik dengan ruang kerja yang nyaman, teknologi tinggi, dan gaya hidup perkotaan. Pertanian masih sering dipersepsikan sebagai pekerjaan yang berat, kotor, dan berisiko tinggi.

Banyak pihak kemudian mengaitkan kondisi ini dengan berkembangnya sektor pariwisata. Di daerah-daerah wisata seperti Bali, Labuan Bajo, Flores, dan Lombok, sektor pariwisata memang menyediakan alternatif pekerjaan yang lebih menarik bagi kaum muda. Namun, pariwisata bukan penyebab utama menurunnya minat bertani. Pariwisata hanya memperlihatkan kenyataan bahwa tenaga kerja muda akan memilih sektor yang menawarkan pendapatan lebih tinggi, risiko lebih rendah, dan status sosial yang lebih baik. Jika pertanian mampu memberikan keuntungan yang kompetitif, perpindahan tenaga kerja ke sektor lain tidak akan berlangsung sedemikian besar.

Keterlibatan TNI dan Polri dalam program pangan memiliki logika tersendiri. Kedua institusi ini memiliki struktur organisasi yang kuat, disiplin tinggi, jaringan hingga tingkat desa, serta kemampuan mobilisasi sumber daya yang cepat. Ketika pemerintah ingin mempercepat pembukaan lahan, meningkatkan produksi pangan, atau mengawal program strategis nasional, TNI dan Polri dipandang memiliki kapasitas operasional yang efektif. Karena itu, keterlibatan aparat kemungkinan besar bukan untuk menggantikan petani, melainkan sebagai instrumen percepatan program ketahanan pangan. Namun efektivitas pendekatan ini tetap perlu dilihat secara kritis. Ketahanan pangan abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang tersedia, tetapi juga oleh teknologi, mekanisasi, benih unggul, inovasi pertanian presisi, akses pasar, logistik, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim. Pengerahan tenaga manusia dalam jumlah besar tidak otomatis menghasilkan sistem pangan yang berkelanjutan.

Dalam jangka panjang, ketahanan pangan tidak dapat bergantung pada mobilisasi aparat. Negara-negara yang berhasil menjaga kedaulatan pangannya justru membangun sistem yang membuat pertanian menjadi profesi yang menguntungkan, modern, dan bermartabat. Petani memperoleh akses terhadap teknologi, pembiayaan, asuransi pertanian, pendidikan, serta kepastian pasar.

Karena itu, persoalan mendasar Indonesia bukanlah mengapa tentara turun ke sawah atau polisi terlibat di ladang. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa semakin sedikit anak muda yang menjadi petani. Atau sebaliknya, mengapa anak muda generasi sekarang tidak tertarik untuk menjadi petani? Mengapa TNI dan POLRi harus terlibat bergerak di kebun? Jika negara mampu menjadikan pertanian sebagai sektor yang menjanjikan kesejahteraan, kebanggaan sosial, dan ruang inovasi teknologi, maka regenerasi petani akan berlangsung secara alami dan pertanian menjadi rebutan untuk bisa punya pekerjaan layak. 

Pada akhirnya, masa depan ketahanan pangan Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya aparat yang dapat dimobilisasi, masuk ke kebu. Ketahanan itu ditentukan oleh keberhasilan bangsa ini melahirkan generasi baru petani yang berpendidikan, sejahtera, inovatif, dan bangga terhadap profesinya*** 


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

HMI Bidang Hukum Badko Sulsel Tagih Janji Prabowo Sikat Korupsi, Jangan Ada yang Kebal Hukum!

Berdasarkan keterangan penyidik, dari Kafe de’CLAN Signature ditemukan uang tunai sekitar Rp60 miliar, yang terdiri at

| Jumat, 10 Juli 2026
FST UNWIRA dan Kampus Ursulin Santa Angela Atambua Rintis Buku Mulok Sains-Budaya

Kolaborasi antara FST UNWIRA Kupang bersama Kampus Ursulin Santa Angela Atambua dan pihak sekolah dari jenjang SD hingga

| Jumat, 10 Juli 2026
Pengadaan Tanah Rampung, PLN UIP Nusra Percepat Realisasi PLTS Alor 1,2 MW

PT PLN (Persero) UIP Nusra telah melaksanakan sosialisasi rencana pembangunan PLTS Alor, di Kelurahan Kalabahi Tengah, K

| Jumat, 10 Juli 2026
Standar Baru Pelayanan Umrah Indonesia, JMQH dan PT Annisa Ahmada Travelindo Sukses Layani 1.214 Jamaah

Komitmen terhadap pelayanan terbaik juga tercermin dari kebijakan pimpinan yang secara penuh bertanggung jawab atas selu

| Kamis, 09 Juli 2026
April DA7 Go Sulawesi! Billboard di Jantung Makassar Siap Gaungkan Lagu "Menyala"

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan April DA7 kepada masyarakat di luar Pulau Jawa, khususnya di Pulau

| Kamis, 09 Juli 2026
Bocah 4 Tahun Di Lebatukan diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual, Pelaku berstatus Pelajar

Keluarga Korban sempat melapor ke Pos pol Hadakewa, tapi disarankan untuk langsung ke Polres karena kategori kasus ini c

| Kamis, 09 Juli 2026
LMA Emeyode Kutuk Pembakaran dan Penembakan Pilot PT AMA di Yahukimo

Dampak langsung adalah terganggunya akses transportasi udara yang penting bagi masyarakat pedalaman Papua.

| Rabu, 08 Juli 2026
Sya'ban Sartono Kecewa penanganan perkara Pengeroyokan Anak di Polres Gowa

Pengeroyokan terhadap anak di bawah umur adalah bentuk kejahatan serius dan pelanggaran hak azasi yang tidak dapat ditol

| Rabu, 08 Juli 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 10