Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Niko Strawn, SVD: Total untuk Lembata " Datang sebagai tamu. Hidup sebagai gembala. dan Berpulang sebagai putra Lembata

Pater Niko Strawn, SVD. Engkau datang sebagai tamu. Engkau hidup sebagai gembala, dan Engkau berpulang sebagai putra Lembata. Sebuah catatan oleh Gerady Tukan

Indonesiasurya
Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:36:34 WIB
Gerady Tukan

Pada awal Agustus 2026, Lembata kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Bukan karena ia lahir di Lembata, melainkan karena ia memilih Lembata sebagai tanah pengabdiannya.

Pastor Nicholas Strawn, SVD, yang lebih akkrab dikenal dengan panggilan Pater Niko Strawn atau tuan Niko,  lahir 24 September 1934 di Cedar Rapids, Oelwein, Amerika Serikat. Ia lahir sebagai anak keempat pasangan Lone David.


Misionaris Serikat Sabda Allah asal Amerika Serikat, telah mengakhiri peziarahan hidupnya setelah lebih dari setengah abad mengabdikan diri bagi Gereja dan masyarakat Lembata.

Selasa, 04 Agustus 2026, pkl. 12.20 WITA, , tuan Niko berpulang pada usia 92 tahun, di Rumah Sakit (RS) Bukit Lewoleba, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Rumah sakit Bukit Lewoleba itu tempat ia menghabiskan masa tuanya sejak tahun 2012. Dan di rumah sakit ini ia berdoa, mempersembahkan misa harian, mengunjungi semua pasien hampir setiap hari, memberikan senyum dan kata-kata peneguhan serta memberkati mereka, tanpa mengenal pasien itu dari agama apa.


Tanggal 20 Oktober 1963, Nicholas Strawn,SVD, seorang pastor muda berusia 28 tahun, naik kapal  SS President Madison  dan bertolak dari Pelabuhan San Fransisco menuju Indonesia. Selama dua bulan pelayaran, kapal pun sandar di Pelabuhan Tanjong Periok Jakarta,  4 Desember 1963.

Tanggal 31 Desember 1963 ia tiba di Ende, setelah menempuh perjalanan pelayaran yang cukup menantang dan hampir merenggut nyawanya akibat kapal terbakar di tengah laut. Berbagai barang untuk awal bermisi di Lembata (sekitar 11 peti), harus dibuang di tengah laut.

Bulan Februari 1964,  Pater Nicholas menjalankan tugas sebagai  Pastor Paroki di Paroki Hati Amat Kudus Yesus, Lerek, Atadei. Selama 24 tahun ia menjadi orang Atadei dan sangat fasih dengan bahasa daerah Atadei.


Di tempat ini ia pun terlibat minum tuak kelapa yang dituang di dalam tempurung kelapa yang telah dibersihkan (konok), maka ia pun mendapat nama baru, tuan Niko Konok.

Tahun 1987, ia dipindahkan ke Paroki Santu Joseph Boto, di Kecamatan Nagawutung, Lembata.  tahun 1987. Setelah 17 tahun di paroki Boto, ia kemudoan dipindahkan ke paroki St Arnold Janssen, Waikomo Lewoleba Lembata. 

Ada orang yang lahir di suatu tempat, tetapi hatinya berada di tempat lain. Ada pula orang yang lahir jauh dari sebuah negeri, tetapi justru menemukan rumahnya di sana.

Pater Niko termasuk golongan yang kedua. Secara biologis ia adalah orang Amerika, tetapi secara batin ia telah menjadi orang Lembata. Ia datang ke Lembata pada tahun 1963 sebagai seorang misionaris muda. Ketika banyak orang memandang Lembata sebagai daerah terpencil dengan medan pegunungan yang berat dan akses yang sulit, ia justru melihatnya sebagai ladang pelayanan yang harus dicintai. Selama lebih dari 25 tahun ia berkarya di Paroki Lerek, Kecamatan Atadei, sebuah wilayah pegunungan yang terkenal dengan tantangan geografisnya. Ia hidup bersama umat, berjalan kaki menyusuri lereng-lereng, mengunjungi stasi, membaptis, memberkati perkawinan, menghibur keluarga yang berduka, dan membangun iman masyarakat sedikit demi sedikit. 

Bagi masyarakat Lembata, nama Pater Niko bukan sekadar nama seorang pastor. Ia adalah bagian dari sejarah hidup banyak keluarga. Ribuan anak menerima baptisan dari tangannya. Banyak pasangan menerima Sakramen Perkawinan yang dipimpinnya. Tidak sedikit pula orang yang mengantar orang tua mereka ke peristirahatan terakhir dengan doa-doanya. Selama puluhan tahun, ia hadir dalam suka dan duka masyarakat.

Salah satu peristiwa yang hingga kini masih hidup dalam ingatan banyak orang adalah perayaan pesta emas imamatnya pada Februari 2012 di halaman Gereja Paroki Santo Arnoldus Janssen Waikomo. Perayaan itu berlangsung pada puncak musim hujan. Sejak beberapa hari sebelumnya, cuaca sangat mengkhawatirkan. Hujan turun silih berganti. Latihan koor dan persiapan liturgi berkali-kali terganggu. Langit dipenuhi awan gelap yang membuat banyak orang cemas apakah misa akbar itu dapat berlangsung dengan baik.

Malam sebelum perayaan, sekitar pukul 00.15, saya berjalan menuju halaman gereja. Saya hanya ingin melihat keadaan dan mencoba menenangkan hati menghadapi pesta besar keesokan harinya. Pelataran gereja sudah sunyi. Hanya beberapa orang yang masih membereskan meja altar. Ketika mata saya mengarah ke dalam tenda yang gelap tanpa lampu, tampak sesosok orang duduk sendirian. Saya mendekat perlahan. Ternyata beliau adalah Pater Niko. Ia duduk diam menghadap altar. Saya memberi salam, lalu duduk di sampingnya. Setelah beberapa saat, saya memberanikan diri bertanya, "Tuan, besok cuaca baik atau tidak?". Ia mengarahkan pandangan ke saya dan sambil mengangguk kepala kecil, lalu menjawab dengan tenang; "Baik. Besok cuaca bagus." Jawaban itu sederhana. Tidak panjang. Tidak disertai penjelasan apa pun. Saya pun berpamitan pulang.

Keesokan harinya, apa yang dikatakannya benar-benar terjadi. Cuaca sangat bersahabat. Matahari bersinar lembut, tertutup awan tipis sehingga tidak menyengat ribuan umat yang memenuhi halaman gereja. Angin tidak bertiup kencang. Udara terasa sejuk. Seluruh rangkaian misa berlangsung dengan khidmat dan penuh sukacita.

Setelah misa, umat larut dalam ramah tamah. Setiap lingkungan menyediakan hidangan. Kebersamaan berlangsung hingga sore hari. Sekitar pukul 15.30 seluruh peralatan mulai dibereskan. Tenda dibongkar, meja dan kursi dikembalikan kepada pemiliknya. Baru setelah semua pekerjaan selesai, hujan pun turun sangat deras, seolah-olah sejak pagi sedang menunggu seluruh acara berakhir.

Bagi orang beriman, peristiwa seperti ini tidak selalu harus dijelaskan sebagai mukjizat. Namun, pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam bahwa seorang hamba Tuhan yang begitu dekat dengan Allah memiliki ketenangan yang sulit dijelaskan dengan logika semata. Banyak orang yang hadir pada hari itu masih mengingat betapa sempurnanya cuaca mengiringi pesta emas imamat Pater Niko.

Dalam misa perayaan emas itu pula, ia menyampaikan sebuah pesan yang kini terasa sangat mengharukan. Ia mengatakan bahwa apabila kelak meninggal dunia, ia ingin dimakamkan di Gereja Paroki Lerek. Bahkan, dengan kesederhanaannya, ia telah menyiapkan sendiri sebagian bahan pembangunan makamnya, seperti semen, besi, dan keramik.

Kalimat itu mungkin terdengar biasa saat diucapkan. Namun kini, setelah beliau benar-benar berpulang, orang menyadari bahwa itu bukan sekadar rencana. Itu adalah pernyataan cinta.

Beberapa waktu setelah pesta emas imamat, ia sempat berpamitan kepada umat di Waikomo. Setelah puluhan tahun tidak pulang, ia ingin kembali mengunjungi kampung halamannya di Amerika Serikat.

Namun perjalanan itu justru memperlihatkan di mana sesungguhnya rumah hatinya berada.Tidak lama kemudian, ia kembali lagi ke Indonesia. Dalam sebuah misa Minggu di Gereja Waikomo, setelah memberikan berkat penutup, ia menceritakan pengalaman itu dengan suara terbata-bata menahan tangis. Ia mengatakan bahwa ketika tiba di kampung halamannya, banyak anggota keluarganya sudah tidak lagi mengenal dirinya. Anak-anak muda di kampung pun tidak mengetahui siapa dirinya. Ia merasa seperti orang asing di tempat kelahirannya sendiri.

Karena itulah ia memilih kembali ke Indonesia. Kembali ke Lembata. Kembali kepada umat yang mengenalnya. Kembali ke tanah yang telah menjadi rumah hidupnya.

   Kisah itu mengandung makna yang sangat mendalam. Selama puluhan tahun ia telah menyerahkan dirinya begitu total kepada tanah misi sehingga identitas hidupnya tidak lagi dibentuk oleh tempat kelahiran, melainkan oleh tempat pengabdian. Ia tidak sekadar bekerja di Lembata. Ia menjadi bagian dari Lembata.

Dalam dunia yang semakin individualistis, pilihan hidup seperti ini terasa luar biasa. Banyak orang mengejar kenyamanan, kedekatan dengan keluarga, dan kehidupan yang mapan. Pater Niko justru memilih pegunungan Lerek, jalan-jalan berbatu, kampung-kampung terpencil, dan umat sederhana sebagai tempat menghabiskan masa mudanya hingga usia senja.

Itulah makna terdalam dari kata misionaris. Misi bukan sekadar berpindah tempat, melainkan memberikan seluruh hidup bagi orang lain. Pater Niko menunjukkan bahwa cinta kepada sebuah bangsa tidak selalu ditentukan oleh kewarganegaraan. Cinta diukur dari kesediaan untuk tinggal, melayani, menderita, bertahan, dan akhirnya memilih dimakamkan di tanah yang dilayani.

Kini Pater Niko telah tiada. Namun warisan terbesarnya bukanlah bangunan gereja yang pernah dibangun atau jabatan yang pernah diemban. Warisan terbesarnya adalah teladan hidup yang total. Ia mengajarkan bahwa pelayanan bukanlah soal seberapa lama seseorang hidup, melainkan seberapa sungguh ia memberikan hidupnya bagi sesama.

Ketika kelak orang-orang melewati makamnya, mereka tidak hanya mengenang seorang imam. Mereka mengenang seorang misionaris yang datang dari negeri yang sangat jauh, tetapi pulang ke rumah yang sesungguhnya: Lembata.

Selamat jalan, Pater Niko Strawn, SVD.

Engkau datang sebagai tamu.

Engkau hidup sebagai gembala.

Engkau berpulang sebagai putra Lembata***


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

PW IWO Kaltim Ucapkan Selamat HUT ke-69 Polda Kaltim, Soroti Pentingnya Sinergi Polisi dan Media

Ketua PW IWO Kaltim, Arya Rusdi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Polda Kaltim atas dedikasi dan pengabdian

| Rabu, 05 Agustus 2026
Satgas TMMD ke 129 Kodim 0210/TU Mulai Memasang Gorong-gorong di Jarak 400 Meter dari Titik Nol

Saat ini anggota satgas TMMD melakukan pengerjaan gorong-gorong di titik pertama di jarak 400 meter dari titik nol

| Rabu, 05 Agustus 2026
Selamat Jalan Kapolres Terbaik! Bumi Panrita Lopi Melepas AKBP Restu Wijayanto Menuju Mabes Polri

Berdasarkan mutasi jabatan di lingkungan Polri tahun 2026, AKBP Restu Wijayanto diangkat sebagai Kasubbag BI Bagjatranin

| Selasa, 04 Agustus 2026
Sambut HUT RI ke 81, Yakobus Teka Lurah Lewoleba Barat bersama warga gelar Berbagai Lomba.

"kita dukung visi misi Bupati dan wakil Bupati dengan nelayan tani ternak (NTT) menuju masyarakat yang sejahtera, adil d

| Senin, 03 Agustus 2026
Disperindag dan Minyak Tanah yang Menghilang di Kota Kupang

Oleh: Teguh Lamentur Takalapeta, M.Fil (Founder Kawan Energi Lestari)

| Senin, 03 Agustus 2026
Baramakassar Ucapkan Selamat Bertugas, Kombes Pol Safi'i Nafsikin Pimpin Polresta Kendari

Komunitas Media Online BaraMakassar menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas amanah yang diberikan kepada Kombes Pol

| Minggu, 02 Agustus 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 92