Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Taan Tou yang Terlupakan: Refleksi Kritis atas Sepinya Pameran Karya Siswa di Lembata

Oleh: Yohanes Paulus Pito Koban, S. Fil, guru SMAN 1 Nagawutung

IndonesiaSurya
Minggu, 04 Mei 2025 | 11:19:21 WIB
Ilustrasi

INDONESIASURYA COM -  Sebagai seorang pemerhati pendidikan dan pelaku langsung dalam dunia pembelajaran, saya tergerak menuliskan refleksi ini setelah mengalami sebuah peristiwa kecil namun menggugah batin. Pada hari kedua kegiatan Gebyar SMK dan Pameran Karya Siswa SMA/SLB se-Kabupaten Lembata (2–4 Mei 2025), saya sempat berbincang singkat dengan sepasang suami-istri yang kebetulan melintas di sekitar area eks Kantor Bupati Lembata, tempat kegiatan ini berlangsung. Mereka kaget bukan kepalang saat mengetahui bahwa sedang berlangsung pameran karya siswa. “Kami baru tahu ada pameran di sini... kalau tidak lewat jalan ini, mungkin tidak tahu sama sekali,” ungkap mereka polos.

Komentar sederhana ini menyentak kesadaran saya. Bagaimana mungkin sebuah kegiatan pendidikan sebesar ini—yang semestinya menjadi ajang apresiasi dan partisipasi publik—justru luput dari perhatian masyarakat, bahkan tidak terkomunikasikan secara baik? Mengapa produk-produk kreatif siswa yang berbasis potensi lokal hanya ditonton dan diapresiasi oleh segelintir orang?

Ironi di Balik Sepinya Pameran Karya Siswa Lembata

Pameran karya siswa merupakan wujud konkret dari pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter, keterampilan, dan kecintaan terhadap budaya lokal. SMA, SMK, dan SLB di Lembata telah menunjukkan komitmen luar biasa dengan menghadirkan produk-produk inovatif seperti olahan pangan lokal, teknologi tepat guna sederhana, kriya khas daerah, hingga dokumentasi praktik kerja industri. Semua ini adalah hasil dari proses panjang pendidikan yang tidak hanya mendidik otak, tetapi juga membentuk jiwa dan keterampilan hidup.

Namun betapa memilukan ketika karya-karya ini seolah ditelantarkan dalam sunyi. Lapak-lapak pameran berdiri megah namun kosong pengunjung. Tidak terlihat antusiasme dari masyarakat umum, bahkan pejabat daerah yang membawa slogan “taan tou” pun hanya tampak secara seremonial. “Berjalan bersama”, yang seharusnya menjadi jiwa kolektif kita, tak terasa hadir dalam dukungan nyata terhadap generasi muda yang sedang berjuang menunjukkan karya dan jati diri.

Fenomena ini menyimpan ironi yang dalam. Di satu sisi, pemerintah dan lembaga pendidikan sering menggaungkan pentingnya pendidikan berbasis potensi lokal dan kearifan budaya. Namun di sisi lain, ketika hasilnya tampil di hadapan publik, justru tidak ada perhatian yang memadai. Kegiatan ini terasa seperti “pamer sendiri, nikmati sendiri.” Anak-anak muda kita ditinggalkan dalam ruang pamer yang sunyi—ibarat janda yang jarang dibelai.

Apakah karena kurangnya publikasi dan koordinasi? Ataukah ini cerminan dari minimnya kepekaan sosial kita terhadap pendidikan? Apapun alasannya, fakta bahwa kegiatan sebesar ini berlangsung tanpa gaung berarti adalah kegagalan kolektif. Bukan hanya dari penyelenggara, tetapi juga dari kita semua sebagai komunitas.

Simpul dan Saran

Kegiatan Gebyar SMK dan Pameran Karya Siswa se-Kabupaten Lembata seharusnya menjadi perayaan bersama—sebuah panggung publik untuk menghargai jerih payah peserta didik, serta wadah untuk mempertemukan kreativitas anak muda dengan kepedulian masyarakat dan kebijakan pemerintah. Sepinya kunjungan dalam kegiatan ini adalah isyarat kuat bahwa “taan tou” belum benar-benar kita hayati dalam tindakan nyata.

Saya mengajak semua pihak—terutama pemerintah daerah, tokoh masyarakat, media lokal, dan institusi pendidikan—untuk mengevaluasi kembali strategi komunikasi, promosi, dan keterlibatan publik dalam kegiatan seperti ini. Pendidikan bukan urusan sekolah semata. Ia adalah tanggung jawab bersama, dan keberhasilan siswa adalah cermin keberhasilan kita sebagai satu komunitas.

Jika kita sungguh percaya bahwa Lembata memiliki masa depan cerah, maka kita harus mulai melangkah bersama, bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam kesediaan untuk hadir, mendengar, menyaksikan, dan menghargai. Taan tou bukan sekadar kata-kata indah—ia adalah semangat yang harus dihidupi.

Lewoleba, 03/05/2025


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Terkini

Target Redistribusi 1.000 Bidang Tanah Di Lembata Tahun 2026 Ancam Hak Ulayat Masyarakat Adat.

Keterbatasan objek tanah ini berkaitan dengan persoalan lama agraria di Lembata, yakni kuatnya klaim hak ulayat masyarak

| Minggu, 14 Desember 2025
Refleksi Pengabdian IPDA Paramudya Fitransyah, S.H.: Tegas dalam Penegakan Hukum, Humanis kepada Masyarakat

figur aparat penegak hukum yang tidak hanya disegani, tetapi juga dihormati dan diterima oleh berbagai lapisan masyaraka

| Sabtu, 13 Desember 2025
"Ciprianus Pito Lerek:"Sikap PDI-P Luar Pemerintahan Jaga Keseimbangan Kekuasaan"

Tanpa oposisi yang kuat, demokrasi akan hancur menjadi sistem otoriter" tegas Bung Pito Lerek

| Sabtu, 13 Desember 2025
Bupati Lembata: DIASPORA ADALAH JEMBATAN PEMASARAN UMKM, PANGAN, DAN HASIL LAUT NTT

Diaspora bukan hanya membawa nama daerah, tetapi menjadi jembatan nyata antara potensi lokal dan pasar yang lebih luas,

| Sabtu, 13 Desember 2025
Dibabat Habis di Hulu, Puluhan Hektare Hutan Lindung di Gowa Gundul Akibat Ilegal Logging

Kawasan yang menjadi hulu sungai dan sumber air bagi Kabupaten Gowa itu kini nyaris tak menyisakan vegetasi.

| Jumat, 12 Desember 2025
Banjir Aceh dan Kenyataan bahwa Kita Sedang Melawan Diri Sendiri

Penulis : Theresia Vischa Hermina Tuto Nugi NIM : 44122140 Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

| Jumat, 12 Desember 2025
Indeks Berita

Poling

Silakan memberi tanggapan anda ! Siapa calon bupati dan calon wakil bupati yang kalian anggap layak pimpin lembata 2024-2029?

TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2025 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 5