Bencana alam yang terus terjadi dalam beberapa minggu terakhir menunjukkan bahwa Indonesia memasuki fase kerentanan ekologis yang semakin serius. Banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung bukan sekadar fenomena alam musiman, tetapi cermin dari kondisi lingkungan yang rusak dan pengelolaan ruang yang semakin mengabaikan keseimbangan ekosistem. Dampaknya tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga mengancam keselamatan ribuan warga.
Hilangnya tutupan hutan akibat penebangan liar menjadi faktor utama meningkatnya risiko bencana. Hutan yang seharusnya berfungsi menahan air dan menjaga stabilitas tanah kini berubah menjadi lahan gundul yang rapuh. Tanpa akar-akar pohon, lereng mudah runtuh dan sungai kehilangan kapasitas alami untuk mengatur aliran air. Situasi ini diperburuk oleh maraknya pembukaan lahan tanpa perhitungan ekologis yang memadai.
Di wilayah perkotaan, persoalan tidak lebih ringan. Pembangunan yang semakin masif dan minim ruang hijau membuat sistem penyerapan air melemah. Kota-kota besar di Indonesia menghadapi kenyataan pahit bahwa beton tidak dapat menggantikan fungsi pohon dan tanah sebagai penjaga keseimbangan lingkungan. Ketika hujan turun dalam intensitas tinggi, kota lumpuh; air tidak menemukan ruang untuk kembali ke bumi.
Masyarakat pun tidak dapat lepas dari tanggung jawab: menjaga lingkungan bukan sekadar seruan, tetapi kebutuhan mendesak untuk memastikan Indonesia tetap aman dan layak huni .
Oleh Karena itu,agar bencana tidak terus berulang, kita harus menunjukkan rasa syukur dengan merawat dan melestarikan lingkungan. Menjaga alam adalah tanggung jawab kita kepada Tuhan sekaligus upaya melindungi masa depan bersama.