Lembata, Indonesiasurya.com -
Anggota DPRD Kabupaten Lembata, Alex Atawolo, menyampaikan dukungannya terhadap program nasional pengembangan tanaman energi dan rehabilitasi lahan yang saat ini tengah digulirkan pemerintah. Namun demikian, ia menegaskan pentingnya agar bibit Malapari asal Lembata menjadi bagian integral dalam implementasi program tersebut, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur dan kawasan timur Indonesia.
“Lembata bukan hanya memiliki lahan yang sesuai, tetapi juga memiliki plasma nutfah Malapari yang unik, adaptif, dan telah teruji secara alami puluhan tahun di iklim kering dan pesisir. Ini adalah keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah,” tegas Alex Atawolo.
Menurutnya, Malapari yang tumbuh alami di Lembata menunjukkan ketahanan tinggi terhadap kekeringan, tanah marginal, serta salinitas, sehingga sangat relevan untuk dikembangkan dalam konteks bioenergi berkelanjutan, rehabilitasi lahan kritis, dan ketahanan iklim.
“Jika pemerintah serius ingin membangun industri bioenergi non-pangan yang berkelanjutan, maka pengembangan harus dimulai dari sumber genetik terbaik. Dan salah satu yang paling potensial di Indonesia saat ini adalah Malapari Lembata,” ujarnya.
Lebih lanjut, Alex Atawolo menekankan bahwa genetika Malapari Lembata merupakan aset strategis jangka panjang yang harus dilindungi, dikembangkan, dan dikelola secara sistematis oleh daerah bersama pemerintah pusat.
“Ke depan, bukan tidak mungkin varietas Malapari Lembata menjadi referensi nasional bahkan internasional untuk tanaman energi tropis. Ini bukan hanya soal ekonomi hari ini, tetapi tentang posisi Lembata dalam rantai nilai bioenergi global di masa depan,” tambahnya.
Ia juga mendorong agar pemerintah daerah segera:
1. Menetapkan kawasan sumber benih Malapari lokal,
2. Mengembangkan nursery dan bank benih berbasis desa,
3. Melindungi sumber genetik melalui regulasi daerah, dan
4. Membangun kemitraan riset dengan perguruan tinggi dan lembaga nasional.
Alex Atawolo menegaskan bahwa DPRD Lembata siap mendukung kebijakan daerah yang berpihak pada pengembangan Malapari lokal, baik melalui penganggaran, regulasi, maupun fasilitasi kemitraan.
“Program nasional harus memberi ruang bagi kekuatan lokal. Malapari Lembata bukan hanya tanaman, tetapi warisan biologis dan modal masa depan daerah,” tutupnya.