Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Heboh, 50 Ekor Lebih Paus Pilot Terdampar Rote Ndao

Belum diketahui secara jelas penyebab terdamparnya mamalia laut di perairan Rote namun sejumlah pihak menduga, kemungkinan penyebab dapat dipicu oleh perubahan kondisi oseanografi, pergeseran arus laut, maupun perubahan distribusi mangsa akibat perubahan iklim.

Indonesiasurya
Rabu, 11 Maret 2026 | 17:07:48 WIB
Ilustrasi

Rote - Peristiwa heboh mengejutkan warga Rote dengan terdamparnya kurang lebih 50 ekor ikan paus pilot  di Pantai Mbadokai, Desa Deranitan dan juga Pantai Sanama, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, pada Senin (9/3/2026).

Peristiwa tidak biasa ini bagi banyak kalangan bukan sekedar satwa liar yang terdampar begitu saja namun, diduga karena kondisi ekosistem laut di wilayah Nusa Tenggara Timur yang semakin rentan.

Di Indonesia Paus Pilot merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi Undang-Undang berdasarkan Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tahun 2018, dan secara global terdaftar dalam Appendix II dari Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).

Dalam banyak kasus di berbagai belahan dunia, fenomena terdampar secara massal sering dikaitkan dengan gangguan pada sistem navigasi tersebut, baik akibat faktor alam maupun akibat tekanan yang bersumber dari aktivitas manusia di laut. Karena itu, peristiwa di Rote Ndao harus dipahami sebagai indikasi adanya gangguan ekologis yang lebih

Paus pilot merupakan mamalia laut yang hidup berkelompok dan memiliki sistem navigasi berbasis gelombang suara (echolocation).

wilayah laut di sekitar Rote, merupakan bagian dari jalur migrasi penting mamalia laut dunia. Kawasan ini terhubung dengan sistem arus laut lintas Indonesia yang mempertemukan berbagai spesies paus dan lumba-lumba yang bermigrasi dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia.

Belum diketahui secara jelas penyebab terdamparnya mamalia laut di perairan Rote namun sejumlah pihak menduga, kemungkinan penyebab dapat dipicu oleh perubahan kondisi oseanografi, pergeseran arus laut, maupun perubahan distribusi mangsa akibat perubahan iklim. Namun demikian, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas manusia di laut, seperti polusi suara dari kapal, survei seismik, serta berbagai bentuk eksploitasi sumber daya laut, dapat mengganggu sistem komunikasi dan navigasi mamalia laut yang sangat sensitif terhadap gelombang suara. 


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Tangkap Terduga Pengedar Narkoba Di Lewoleba Polres Lembata Bungkam

Ketika sejumlah wartawan mendatangi Mapolres Lembata sesuai undangan tersebut, Kasi Humas Polres Lembata belum dapat dit

| Rabu, 10 Juni 2026
Mahasiswa Unwira Kupang Lakukan Pendampingan Pemanfaatan Media Sosial Bagi Aparat Desa Painapang

Dalam pendampingan tersebut, Stefany menjelaskan pentingnya media sosial sebagai sarana penyebaran informasi desa yang c

| Rabu, 10 Juni 2026
Polres Bulukumba Pastikan Selidiki Peristiwa Tenggelamnya Siswi di Kawasan Wisata Apparalang

Saat berada di atas papan spot foto yang menjorok ke arah laut, korban diduga terpeleset dan terjatuh ke perairan di baw

| Selasa, 09 Juni 2026
Status Care taker KNPI Biak Numfor Jadi Sorotan, GMNI Pertanyakan Dasar Kelanjutan Tahapan Musda

Jika memang masa berlaku SK telah berakhir dan telah ada surat himbauan dari DPD KNPI Provinsi Papua, maka penting untuk

| Sabtu, 06 Juni 2026
Di Muscab PAN Lembata, Hasan Baha Tegas, PAN Ibarat Matahari Tak Pernah Ingkar Janji

“Kontribusi kita sebagai kader melalui panji perjuangan PAN adalah bagian dari tujuan besar kita bermasyarakat dan ber

| Jumat, 05 Juni 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 9