INDONESIASURYA.COM - Narasi bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun (3,5 abad) oleh Belanda sebenarnya adalah sebuah mitos sejarah atau penyederhanaan yang digunakan untuk tujuan politik dan nasionalisme pada masanya. Secara teknis dan historis, klaim tersebut tidak akurat.
Berikut adalah penjelasan terperinci mengenai alasan mengapa angka 350 tahun dianggap tidak tepat oleh para sejarawan:
1. Asal-Usul Angka "350 Tahun"
Angka ini didapat dari pengurangan tahun kemerdekaan (1945) dengan tahun kedatangan pertama orang Belanda, Cornelis de Houtman, di Banten pada 1596.
Kekeliruan: Pada 1596, Belanda datang hanya untuk berdagang, bukan menjajah. Mereka bahkan sempat diusir oleh penguasa lokal karena sikap yang kasar.
Tujuan Politik: Narasi ini dipopulerkan oleh tokoh nasional seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Yamin
untuk membakar semangat persatuan rakyat.
Dengan menyebut penjajahan
yang sangat lama, rakyat merasa memiliki penderitaan yang sama sehingga lebih mudah bersatu melawan kolonialisme.
2. VOC Bukanlah Pemerintah Belanda
Dari tahun 1602 hingga 1799, wilayah Nusantara tidak dikuasai oleh negara Belanda, melainkan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), sebuah perusahaan dagang swasta.
Meskipun VOC memiliki hak istimewa (Octrooi) untuk berperang dan mencetak uang, fokus mereka adalah monopoli perdagangan.
• Pemerintah Kolonial Belanda secara resmi baru mengambil alih kekuasaan pada 1 Januari 1800 setelah VOC
bangkrut.
3. Penjajahan Tidak Terjadi Serentak
Belanda tidak langsung menguasai seluruh wilayah Indonesia dalam satu waktu. Mereka menaklukkan daerah-daerah di Nusantara secara bertahap selama ratusan tahun.
• Batavia dikuasai sejak 1619.
• Namun, banyak wilayah lain yang tetap merdeka dan berdaulat hingga awal abad ke-20. Contohnya:
• Aceh: Baru benar-benar takluk sekitar tahun 1904 setelah perang panjang.
• Bali: Kerajaan Klungkung baru jatuh pada 1908.
• Tapanuli: Perlawanan
Sisingamangaraja XII baru berakhir pada 1907.
Jika dihitung dari penaklukan total seluruh wilayah Belanda mungkin hanya benar-benar menjajah
"Indonesia" (sebagai satu kesatuan wilayah) selama sekitar 30 hingga 50 tahun saja.
4. Perspektif Hukum Internasional (G.J. Resink)
Sejarawan dan ahli hukum G.J. Resink adalah tokoh utama yang mematahkan mitos ini. Ia berargumen bahwa hingga tahun 1900-an, banyak kerajaan di Nusantara yang secara hukum internasional masih dianggap sebagai "Negara Merdeka" karena memiliki perjanjian diplomatik yang setara dengan Belanda, bukan sebagai bawahan.
Indonesia tidak dijajah selama 350 tahun secara keseluruhan. Istilah itu lebih merupakan alat retorika perjuangan untuk membangkitkan nasionalisme.
Secara faktual, masa penjajahan Belanda di tiap daerah berbeda-beda dan kekuasaan absolut mereka atas seluruh Nusantara sebenarnya berlangsung jauh
lebih singkat dari yang diajarkan di buku-buku sekolah lama.
Mengapa Angka 350 Tahun Dianggap Mitos?
Periode VOC (1602-1799): Masa ini lebih fokus pada perdagangan rempah-rempah melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). VOC hanya menguasai beberapa pos dagang dan tidak mengontrol seluruh wilayah Nusantara; kerajaan-kerajaan lokal masih berkuasa.
Periode Hindia Belanda (1800-1942): Baru setelah VOC bubar tahun 1799, pemerintah Belanda secara langsung mengambil alih dan mulai membentuk pemerintahan kolonial yang lengkap (aparat hukum, militer) di Nusantara, yang dimulai sekitar tahun 1800.
Penaklukan Tidak Merata: Belanda membutuhkan waktu sangat lama untuk menaklukkan seluruh wilayah. Aceh, misalnya, baru sepenuhnya dikuasai pada awal abad ke-20 (sekitar 1901), bukan dari abad ke-17.
Intervensi Negara Lain: Ada jeda masa kekuasaan Prancis (1800-1811) dan Inggris (1811-1816) di antara kekuasaan Belanda.
Jadi, Berapa Lama Sebenarnya?
Jika dihitung dari pendirian pemerintahan kolonial Hindia Belanda (1800) hingga menyerah ke Jepang (1942), masa penjajahan Belanda secara efektif adalah sekitar 142 tahun.
Namun, narasi 350 tahun terus bertahan karena dipopulerkan oleh tokoh nasional seperti Soekarno untuk membangkitkan semangat persatuan dan perlawanan, menciptakan memori kolektif perjuangan panjang.