Indonesiasurya.com - Mgr. Paulus Antonius Sani Kleden, S.V.D. bukan hanya tercatat sebagai Uskup Denpasar pertama, tetapi juga
sebagai salah satu gembala Gereja Katolik Indonesia yang meninggalkan warisan besar dalam usia yang relatif singkat.
la lahir pada 26 Juni 1924 di Waibalun, Larantuka, Flores Timur, dari pasangan Yosep Suban Kleden dan Maria Kemohun Kean-sebuah keluarga sederhana yang kelak
melahirkan sosok pemimpin Gereja
berkaliber nasional.
Perjalanan panggilannya dimulai dari Seminari Mataloko, sebuah lembaga pendidikan imam yang telah melahirkan banyak tokoh Gereja besar dari Nusa Tenggara.
Pada 20 Agustus 1950, Paulus Sani Kleden ditahbiskan menjadi imam Serikat Sabda Allah (S.V.D.).
Sejak awal, ia dikenal sebagai imam yang cerdas, rendah hati, dan memiliki kepekaan pastoral yang kuat. Tonggak sejarah besar terjadi pada 4 Juli 1961, ketika Denpasar resmi ditingkatkan dari Prefektur Apostolik menjadi Keuskupan, dan Paulus Sani Kleden terpilih sebagai Uskup Pertama Keuskupan Denpasar.
la saat itu baru berusia 37 tahun, menjadikannya salah satu uskup termuda di Indonesia pada masanya.
Tahbisan uskup berlangsung pada, 3 Oktober 1961 di Palasari, Bali, dengan Uskup Agung Gabriel Wilhelmus Manek, S.V.D. sebagai Uskup Konsekrator utama, didampingi oleh dua tokoh besar Gereja Timur Indonesia: Mgr. Antonius Hubertus Thijssen, S.V.D. (Larantuka) dan
Mgr. Theodorus van den Tillaart, S.V.D. (Atambua). Peristiwa ini bukan sekadar seremoni gerejawi, melainkan penegasan arah baru Gereja Katolik di Bali.
Sebagai gembala, Mgr. Sani Kleden
memilih Singaraja sebagai tempat
tinggal awalnya sebelum akhirnya
memindahkan istana keuskupan ke
Jalan Rambutan No. 27 Denpasar pada akhir 1967.
la memiliki visi kuat tentang Gereja yang inklusif dan partisipatif, dengan menekankan kerja sama antara kaum awam dan hierarki sebagai satu tim pelayanan.
Di tingkat nasional dan internasional, perannya tidak kalah signifikan. la tercatat sebagai Bapa Konsili Vatikan II (1962-1965) dan mengikuti keempat sesi Konsili secara utuh, sebuah keikutsertaan yang menunjukkan kepercayaan besar Vatikan terhadap kapasitas intelektual dan pastoralnya.
Spirit pembaruan Konsili ini kemudian ia terjemahkan secara konkret dalam kehidupan Gereja lokal di Bali.
Mgr. Sani Kleden juga aktif sebagai Uskup Penahbis Pendamping bagi sejumlah tokoh Gereja besar Indonesia, antara lain:
Mgr. Paternus Geise, O.F.M. (Bogor) -
1962
Mgr. Justinus Darmojuwono
(Semarang) - 1964
Mgr. Gregorius Manteiro, S.V.D.
(Kupang) - 1967
Mgr. Leo Soekoto, S.J. (Djakarta) –
1970 -
Tak hanya itu, ia turut berperan dalam
pendirian PMKRI Cabang Denpasar
Sanctus Paulus pada 10 Oktober
1963, menegaskan perhatiannya
pada kaderisasi kaum muda Katolik
dan peran intelektual awam dalam
kehidupan berbangsa.
Sayangnya, masa pelayanannya
harus berakhir terlalu cepat. Pada
17 November 1972, Mgr. Paulus Sani
Kleden wafat di Jakarta dalam usia 48
tahun, saat sedang menghadiri sidang
Majelis Agung Wali Gereja Indonesia
(MAWI).
la sempat dimakamkan di Jakarta sebelum akhirnya dipindahkan ke Tempat Pemakaman Palasari, Jembrana, Bali - tanah yang menjadi
saksi pengabdiannya sebagai gembala.
Meski singkat, jejak pelayanannya
tetap hidup: dalam struktur Gereja
Denpasar, dalam kader awam yang ia
dorong, dan dalam semangat Gereja
yang terbuka terhadap dialog budaya
serta zaman. Ia bukan hanya seorang serta zaman. Ia bukan hanya seorang uskup, tetapi seorang visioner yang melampaui masanya. sumber: wikipedia