Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Raden Ayu Sekartaji Keturunan Jawa Yang Menghilang

Dan bila kau pernah berdiri di tepi pantai Selatan Jawa Timur saat senja dan mendengar suara gamelan dari kejauhan, jangan cari sumbernya

Indonesiasurya
Minggu, 11 Januari 2026 | 22:56:19 WIB
Ilustrasi

INDONESIASURYA.COM -

Tahun 1981, ada sebuah kediaman keraton kecil di pesisir Jawa Timur Di antara reruntuhan keraton Kesultanan Blambangan yang nyaris dilupakan sejarah, hidup Raden Ayu Sekartaji, satu-satunya keturunan langsung dari garis perempuan terakhir keluarga bangsawan Blambangan.

la tinggal sendirian di Dalem Kuning, rumah warisan yang dindingnya penuh ukiran naga laut dan bunga padma ― simbol kekuatan spiritual yang konon mampu menghubungkan dunia manusia dan roh leluhur.

Pada malam bulan purnama di bulan Suro 1981, Raden Ayu menghilang. Tak ada jejak kekerasan.

Pintu terkunci dari dalam. Hanya ditemukan kain jarik nya tergeletak di tengah pendopo, masih hangat, dan di atas meja sesaji: tujuh buah salak condet dan satu gelas air kelapa muda - padahal salak condet hanya tumbuh di Jakarta, dan kelapa itu dipetik dari pohon yang sudah mati sejak 1975.

Yang lebih janggal: Di buku harian terakhirnya, tertulis:
> "Mereka datang menjemputku. Bukan untuk mencelakai - tapi karena tiba waktuku kembali. Aku bukan menghilang. Aku hanya... pulang ke laut."

-Menurut cerita lisan yang dijaga ketat oleh tetua adat, garis keturunan perempuan Blambangan sejak dulu dipercaya sebagai penjaga gerbang antara dunia nyata dan alam bawah laut.

Setiap generasi, satu perempuan harus "kembali" sebelum usia 50 - jika tidak, bencana akan melanda pesisir:  ombak menelan desa, ikan mati, dan cuero condorong anib tordengar dari Umuan mericiam utsa, man mali, uan suara genderang gaib terdengar dari dasar laut.

Raden Ayu berusia 49.
Sejak kepergiannya, tak ada lagi keturunan perempuan Blambangan. Catatan keluarga menunjukkan garis itu putus - padahal ia tak pernah menikah, dan tak punya saudara. Namun, yang paling mengundang
tanya: Pada tahun 2002, seorang nelayan
menemukan peti kayu jati terdampar di
pantai Banyuwangi. Di dalamnya, tak
ada mayat-hanya mahkota emas kecil
berhiaskan mutiara laut dan sepucuk
surat dalam aksara Jawa kuno.
Isinya:
> _"Kalian mengira aku hilang. Tapi aku menjaga. Selama ombak masih menyebut namaku, tanah ini tak akan
tenggelam."

> -Sekartaji, Anak Laut Blambangan
Surat itu kini disimpan di museum daerah-tapi petugas sumpah, setiap malam Jumat Kliwon, peti itu beratnya berubah, seolah ada yang duduk di dalamnya.

Dan bila kau pernah berdiri di tepi pantai Selatan Jawa Timur saat senja dan mendengar suara gamelan dari kejauhan, jangan cari sumbernya. Sebab menurut nelayan tua, itu tanda sang putri sedang memainkan genderangnya ― mengingatkan dunia:
"Aku masih di sini. Dan tanah leluhur ini... belum boleh kau lupakan."


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Terkini

HUT ke-27 Lembata, Bupati Kanis Tegaskan Pembangunan Harus Berdampak Nyata

Peringatan tahun ini mengusung tema 'Dengan Semangat Taan Tou, Melangkah Bersama Mewujudkan Pemerintahan yang Efektif, S

| Selasa, 13 Oktober 2026
Bupati Kanis Tinjau Laboratorium Kesehatan Hewan Lembata, Pastikan Siap Beroperasi

"Laboratorium ini sangat penting untuk memantau kesehatan ternak, memastikan keamanan daging yang beredar, serta mengawa

| Rabu, 14 Oktober 2026
Dari Laporan Masyarakat hingga Penindakan, Satresmob Bareskrim Ungkap Kasus Curanmor

Tim Satresmob Bareskrim Polri yang dipimpin oleh Kanit 1 Satresmob Bareskrim Polri, Kombes Pol Harry Azhar, S.H., S.I.K.

| Selasa, 13 Oktober 2026
PT. Annisa Ahmada Buka Suara! Bantah Telantarkan Jemaah Umroh, Ungkap Masalah Vendor Tiket

Dalam surat klarifikasi bernomor 042/AAT/EXT/X/2026, PT Annisa Ahmada Travelindo menjelaskan kronologi permasalahan yang

| Selasa, 13 Oktober 2026
"Otonomi Harus Dirasakan Sampai ke Desa" — Lukman Laba Soroti Perayaan yang Terasa Jauh dari Masyarakat

Lukman menutup dengan harapan agar otonomi benar-benar hidup di hati setiap masyarakat, dari kota hingga ke desa-desa pa

| Senin, 12 Oktober 2026
HUT ke-27 Otonomi Lembata: Ketua DPRD Syafrudin Sira ; "Otonomi hanya judul namun, isinya nyaris tak ada"

Kita belum menjiwai secara penuh otonomi ini. Semangat Taan Tou — satu rasa — belum kita lakukan secara maksimal." U

| Senin, 12 Oktober 2026
Fransiskus Gewura akui, 27 Tahun Otonomi Lembata ada Kemajuan, tinggal Fokus ke Ekonomi Masyarakat

Poin tak kalah penting yang disampaikan Frans Gewura adalah menjaga keamanan dan ketertiban agar Lembata menjadi daerah

| Senin, 12 Oktober 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 7