Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Keunikan Sarung Adat Ile Ape Proses 3 Tahun Hargai Rp25 Juta, Memukau Pengunjung Festival Lamaholot

Kain sarung adat tersebut merupakan karya dari Kelompok Penenun Peten Ina Desa Lamagute

Indonesiasurya
Kamis, 02 Juli 2026 | 01:18:11 WIB
Foto

 LEWOLEBA  – Salah satu daya tarik utama yang menyita perhatian pengunjung pada acara pembukaan Festival Lamaholot Tahun 2026 di Pantai Wisata Wulen Luo, Lewoleba, Rabu (1/7/2026), adalah kehadiran Sarung Adat khas Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur yang dipasarkan dengan harga mencapai Rp25 juta per helai.

Nilai tinggi dari kain tenun ini bukan semata-mata karena harganya, melainkan karena proses pembuatan yang sangat panjang, memakan waktu hingga kurang lebih tiga tahun, serta melibatkan ketelitian dan kesabaran luar biasa dari para pengrajin.

Kain sarung adat tersebut merupakan karya dari Kelompok Penenun Peten Ina Desa Lamagute. Menurut Ketua Kelompok, Agnes K. Witak, proses pembuatannya dilakukan secara tradisional mulai dari nol, yakni dari menanam kapas sebagai bahan baku utama.

"Prosesnya sangat panjang. Dimulai dari menanam kapas, memanen, lalu melakukan Balo Kape atau memisahkan kapas dari bijinya secara manual. Kemudian kapas tersebut diolah kembali atau dibuhu agar halus, lalu dipintal menjadi benang melalui proses Tue Lelu," jelas Agnes.

Keunikan lainnya terletak pada teknik pewarnaan alami yang memakan waktu bertahun-tahun. Untuk mendapatkan warna hitam pekat, benang direndam menggunakan ekstrak tanaman Taum dicampur kapur sirih selama kurang lebih tiga tahun. Sedangkan untuk mendapatkan warna coklat matang, benang direndam menggunakan akar pohon Mengkudu yang dicampur dengan tanaman Kokal yang didatangkan khusus dari Kabupaten Alor, dengan proses perendaman yang juga memakan waktu sekitar tiga tahun.

"Dulu tanaman Kokal dari Alor kita tukar dengan jagung, sekarang satu ikat kecil harganya Rp50.000. Proses yang lama inilah yang membuat warna menjadi sangat kuat, stabil, dan bernilai tinggi," tambahnya.

Karena kerumitan dan lamanya proses tersebut, dalam satu tahun kelompok ini hanya mampu menghasilkan satu hingga dua helai kain tenun asli. Harganya pun bervariasi, sekitar Rp8 juta untuk motif hitam dan mencapai Rp25 juta untuk motif coklat.

Secara fungsi, kain ini memiliki makna sakral dan sangat penting dalam tata cara adat masyarakat Ile Ape.

"Sarung ini wajib ada dalam setiap upacara adat dan pernikahan. Jika laki-laki memberikan gading, maka pihak perempuan membalas dengan sarung ini. Ada perbedaan juga, untuk pria disebut Snawel (polos), sedangkan untuk wanita disebut Wate (bermotif)," terang Agnes.

Saat ini, di Desa Lamagute hanya tersisa lima kelompok yang masih konsisten menenun kain adat asli. Meskipun mendapatkan dukungan stimulan dari Dana Desa, mereka berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terkait pemasaran agar produk luar biasa ini tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga dapat menembus pasar yang lebih luas hingga ke luar daerah.

Pada Festival Lamaholot 2026 yang berlangsung selama empat hari ini, pengunjung tidak hanya dapat menyaksikan keindahan kain tenun, tetapi juga berbagai atraksi budaya lainnya seperti Pano Mowak (persiapan motif), Titi Jagung, hingga kerajinan unik dari tulang ikan paus dan kerang mutiara, yang semuanya memperkaya khazanah budaya Lamaholot. (Prokompimkablembata)


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Terkini

HUT ke-27 Lembata, Bupati Kanis Tegaskan Pembangunan Harus Berdampak Nyata

Peringatan tahun ini mengusung tema 'Dengan Semangat Taan Tou, Melangkah Bersama Mewujudkan Pemerintahan yang Efektif, S

| Selasa, 13 Oktober 2026
Bupati Kanis Tinjau Laboratorium Kesehatan Hewan Lembata, Pastikan Siap Beroperasi

"Laboratorium ini sangat penting untuk memantau kesehatan ternak, memastikan keamanan daging yang beredar, serta mengawa

| Rabu, 14 Oktober 2026
Dari Laporan Masyarakat hingga Penindakan, Satresmob Bareskrim Ungkap Kasus Curanmor

Tim Satresmob Bareskrim Polri yang dipimpin oleh Kanit 1 Satresmob Bareskrim Polri, Kombes Pol Harry Azhar, S.H., S.I.K.

| Selasa, 13 Oktober 2026
PT. Annisa Ahmada Buka Suara! Bantah Telantarkan Jemaah Umroh, Ungkap Masalah Vendor Tiket

Dalam surat klarifikasi bernomor 042/AAT/EXT/X/2026, PT Annisa Ahmada Travelindo menjelaskan kronologi permasalahan yang

| Selasa, 13 Oktober 2026
"Otonomi Harus Dirasakan Sampai ke Desa" — Lukman Laba Soroti Perayaan yang Terasa Jauh dari Masyarakat

Lukman menutup dengan harapan agar otonomi benar-benar hidup di hati setiap masyarakat, dari kota hingga ke desa-desa pa

| Senin, 12 Oktober 2026
HUT ke-27 Otonomi Lembata: Ketua DPRD Syafrudin Sira ; "Otonomi hanya judul namun, isinya nyaris tak ada"

Kita belum menjiwai secara penuh otonomi ini. Semangat Taan Tou — satu rasa — belum kita lakukan secara maksimal." U

| Senin, 12 Oktober 2026
Fransiskus Gewura akui, 27 Tahun Otonomi Lembata ada Kemajuan, tinggal Fokus ke Ekonomi Masyarakat

Poin tak kalah penting yang disampaikan Frans Gewura adalah menjaga keamanan dan ketertiban agar Lembata menjadi daerah

| Senin, 12 Oktober 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 5