Denpasar - Menghadapi sentimen negative terhadap warga NTT di Bali, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) melalui Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, melakukan kunjungan kerja ke Denpasar.
Langkah tersebut sebagai wujud perhatian pemerintah provinsi NTT terhadap warganya yang berada di pulau Bali sekaligus meminimalisir ketegangan sosial yang terjadi belakangan ini.
Sejumlah kasus hukum dan gangguan ketertiban yang melibatkan oknum warga asal NTT.
Fenomena tersebut memicu generalisasi yang tidak adil di media sosial, yang dikhawatirkan dapat menyudutkan ribuan warga NTT lainnya yang selama ini hidup tertib dan menjunjung tinggi adat istiadat di Bali.
Dalam pertemuan silaturahmi yang digelar pada Rabu malam, Wagub Johni Asadoma menegaskan komitmen pemerintah untuk mendampingi warganya di perantauan. Ia mengakui bahwa kondisi saat ini sedang tidak ideal bagi citra masyarakat NTT.
"Kami hadir di Denpasar karena situasi sedang tidak baik-baik saja. Namun, sudah menjadi fungsi pemerintah untuk selalu hadir dalam situasi apa pun demi memberikan solusi bagi masyarakat," ujar Johni di hadapan perwakilan organisasi dan paguyuban warga NTT.
Johni menekankan bahwa tindakan segelintir oknum tidak mencerminkan nilai budaya Flobamora yang sesungguhnya. Namun, ia mengingatkan bahwa secara sosiologis, setiap individu diaspora memikul nama baik daerah asal.
Akibat ulah oknum ini, muncul stigma negatif yang merugikan mahasiswa dan pekerja kita, tidak hanya di Bali, tapi juga mulai merembet ke daerah lain seperti Surabaya dan Malang. Kita tidak boleh tinggal diam; citra NTT harus kembali pulih," kata Johni tegas.
Dalam kunjungannya, Wagub didampingi jajaran pejabat teras Pemprov NTT, sejumlah Bupati dan Wakil Bupati dari daratan Sumba, serta anggota legislatif Provinsi NTT. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menangani isu sosial yang menyangkut martabat warga di perantauan.