Indonesiasurya.com || Lembata - Direktur Utama Persebata Lembata, Berto Take (Berto), menegaskan bahwa isu pengunduran diri Manajer Tim Persebata Lembata, Febri Nababan, belum pernah terjadi secara resmi dan masih sebatas wacana internal.
Pernyataan tersebut disampaikan Berto kepada awak media, Rabu (17/12/2025).
Isu ini mencuat setelah beredarnya pesan WhatsApp yang menyebutkan Febri Nababan berniat mengundurkan diri dari jabatannya sebagai manajer tim.
“Selamat malam, saya mau izin pamit out dari grup ini dan mohon maaf untuk mengundurkan diri dari Tim Persebata Lembata. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dan tidak bisa melanjutkan memegang tim sampai turnamen selesai,” demikian isi pesan yang beredar.
Namun, Berto menegaskan bahwa hingga saat ini Febri Nababan masih menjabat sebagai Manajer Tim Persebata Lembata dan masih terikat kontrak.
“Ini hanya persoalan komunikasi internal. Yang bersangkutan masih terikat kontrak dengan Persebata Lembata,” ujar Berto saat dikonfirmasi oleh awak media.
Menurutnya, peran manajer tim sangat vital, baik di dalam maupun di luar lapangan. Selain sebagai manajer, Febri Nababan juga merupakan salah satu sponsor utama Persebata Lembata NTT.
Berto juga menjelaskan bahwa pihak manajemen terus berkoordinasi dengan Bupati Lembata terkait pendanaan tim. Namun, keterbatasan postur APBD membuat pemerintah daerah tidak dapat membiayai klub secara langsung.
“Postur APBD sudah terbagi habis, tetapi Pak Bupati memiliki itikad baik untuk membantu dengan mencarikan sponsor,” ungkapnya.
Selain itu, PT Lembata Taan Tou bersama suporter Lomblen Mania juga melakukan upaya penggalangan dana melalui penjualan jersey Persebata Lembata NTT.
Terkait pembentukan PT, Berto menegaskan bahwa hal tersebut dilakukan semata-mata untuk memenuhi tuntutan regulasi kompetisi.
“Persebata bukan milik PT. Persebata adalah milik masyarakat Lembata. PT ini hanya wadah administrasi,” tegasnya.
Ia mengakui bahwa manajemen menghadapi keterbatasan sumber daya karena para pengurus dan pemegang saham juga memiliki pekerjaan lain sehingga tidak dapat bekerja penuh waktu.
Soal pendanaan, Berto mengungkapkan bahwa total biaya operasional yang telah dikeluarkan manajemen hingga saat ini mencapai sekitar Rp720 juta, terhitung sejak pelaksanaan training center (TC) pada September 2025.
“Sampai hari ini, gaji pemain untuk bulan Desember belum bisa dibayarkan,” ujarnya.
Selain gaji pemain, biaya operasional harian juga cukup besar. Kebutuhan makan dan minum melalui katering mencapai Rp7–8 juta per hari, belum termasuk biaya penginapan serta transportasi ke lokasi latihan yang mencapai sekitar Rp300 ribu setiap perjalanan.
Menghadapi kondisi tersebut, manajemen Persebata Lembata berencana menggelar rapat lanjutan untuk mencari solusi konkret.
“Kami akan menggelar rapat kembali. Kami sangat membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat agar Persebata bisa terus bertahan dan berprestasi di Liga 3,” tutup Berto.(Bedos)