Nagawutung-Lembata, IndonesiaSurya.com – Suasana penuh sukacita dan haru menyelimuti umat Stasi Santa Theresia Loang pada perayaan Ekaristi Minggu Biasa XII, Minggu (21/6/2026). Perayaan yang berlangsung meriah dengan iringan musik dan koor dari keluarga besar UPT Puskesmas Nagawutung itu menjadi momen istimewa untuk mengungkapkan syukur atas empat tahun pelayanan pastoral RD. Yeremias Rianghepat di Paroki Santa Maria Ratu Damai Mingar.
Bagi umat, sosok yang akrab disapa Romo Yermin itu dikenal sebagai seorang gembala yang tegas namun berhati lembut. Dalam karya pelayanannya, ia tidak pernah ragu menyuarakan kebenaran serta mengingatkan umat agar senantiasa hidup selaras dengan ajaran Kristus.
Selama kurang lebih empat tahun mendampingi umat Paroki Mingar, Romo Yermin dengan lantang mengajak umat untuk membangun kehidupan iman yang kokoh, terutama melalui kesetiaan mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu dan hari-hari yang disamakan dengan hari Minggu sebagai perayaan misteri Tubuh dan Darah Kristus.
Dalam homilinya pada Minggu Biasa XII, Romo Yermin merefleksikan bacaan suci hari itu dengan meneladani Nabi Yeremia. Menurutnya, setiap orang yang berani menjadi saksi kebaikan dan kebenaran tidak akan terlepas dari tantangan, penderitaan, bahkan pengalaman hidup yang mengecewakan.
“Kebaikan dan kejujuran tidak membutuhkan pengakuan atau validasi dari siapa pun. Keduanya sering berada di tempat yang sunyi, tetapi memiliki daya pengaruh yang besar bagi mereka yang menyadari kehadirannya,” ungkapnya.
Ia juga mengajak seluruh umat untuk sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Allah. Penyerahan diri itu, katanya, harus diwujudkan dalam karya pengabdian sehari-hari sesuai dengan kehendak Tuhan, meskipun setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda.
“Kita dipanggil menjadi terang dan pembawa sukacita bagi sesama, terutama bagi orang-orang yang hidup di sekitar kita,” pesannya.
Pada kesempatan tersebut, Romo Yermin juga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh umat Paroki Mingar yang telah menerima kehadirannya sebagai imam sejak empat tahun lalu. Dengan penuh kerendahan hati, ia mengakui bahwa perjalanan pelayanan yang telah dijalani bersama umat menjadi bagian berharga dalam hidup imamatnya.
Kini, ia akan melanjutkan perutusan di tempat yang baru, yakni di Paroki Santo Yoseph Boto. Meski berpisah secara fisik, ikatan persaudaraan yang telah terjalin selama ini diharapkan tetap terpelihara.
“Rawatlah dan jagalah apa yang telah kita tanam bersama selama empat tahun ini. Jangan pernah lupa bahwa kita pernah ada di tempat ini dan telah saling berbagi dalam suka maupun duka. Jika kita saling merindukan, marilah kita saling mendoakan agar di mana pun kita berada, kasih Tuhan senantiasa membimbing langkah hidup kita,” tutur Romo Yermin yang disambut haru umat.
Perayaan syukur tersebut kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan agape bersama seluruh umat Stasi Santa Theresia Loang. Dalam suasana kekeluargaan yang hangat, umat mengenang perjalanan kebersamaan bersama sang gembala yang selama ini dikenal tegas dalam prinsip, namun lembut dalam kasih dan pelayanan.
Kepergian RD. Yeremias Rianghepat menuju ladang pelayanan yang baru memang meninggalkan rasa kehilangan. Namun, benih-benih iman, persaudaraan, dan semangat hidup menggereja yang telah ditanamnya selama empat tahun diyakini akan terus bertumbuh dan berbuah di tengah umat.
Sebab, seorang gembala sejati tidak hanya dikenang melalui kata-katanya, tetapi terutama melalui jejak kasih dan pengabdiannya yang tetap hidup dalam hati umat yang pernah dilayaninya. (Hans Koban)
Sumber: Thomas K. Swalar