NTT — Dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) Kabupaten Ngada kembali menjadi sorotan publik setelah beredar kabar viral tentang seorang anak usia sekolah dasar yang diduga mengakhiri hidupnya akibat tekanan ekonomi keluarga. Peristiwa ini mengguncang hati masyarakat luas dan memicu diskusi serius mengenai akses pendidikan yang adil dan manusiawi bagi anak-anak di daerah terpencil.
Informasi yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa anak tersebut mengalami tekanan psikologis karena orang tuanya tidak mampu membelikan alat tulis sekolah.
Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat kebutuhan pendidikan sederhana seperti buku dan alat tulis menjadi beban berat. Meski pihak berwenang masih mendalami kronologi lengkap kejadian, peristiwa ini telah memicu gelombang empati sekaligus kritik terhadap sistem pendidikan dan perlindungan sosial di daerah.
Menanggapi kejadian tersebut, Dr. Zakaria Wahid, S.Pd., M.Pd, dosen di bidang Pendidikan dan Keguruan asal Kabupaten Lembata, Kedang, menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menilai kasus ini sebagai alarm keras bagi semua pihak, khususnya pemerintah dan pemangku kebijakan pendidikan.
“Ini bukan sekadar persoalan individu atau keluarga, tetapi kegagalan sistemik. Ketika seorang anak merasa putus asa hanya karena tidak memiliki alat tulis, berarti negara belum sepenuhnya hadir dalam menjamin hak dasar pendidikan,” ujar Dr. Zakaria.
Ia menekankan bahwa pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman dan membebaskan, bukan sumber tekanan psikologis bagi anak. Menurutnya, masih banyak anak di wilayah NTT yang bersekolah dalam kondisi serba kekurangan, namun kurang mendapat perhatian serius.
“Guru, sekolah, dan pemerintah harus lebih peka terhadap kondisi sosial ekonomi peserta didik. Pendekatan pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kurikulum, tetapi juga pada kemanusiaan,” tambahnya.
Dr. Zakaria juga mendorong adanya kebijakan konkret seperti penyediaan perlengkapan sekolah gratis, penguatan peran guru bimbingan konseling, serta keterlibatan aktif pemerintah desa dan orang tua dalam mendampingi anak-anak.
Peristiwa ini diharapkan menjadi refleksi bersama agar tragedi serupa tidak kembali terulang. Pendidikan bukan hanya soal belajar di kelas, tetapi juga tentang memastikan setiap anak merasa dihargai, didukung, dan memiliki harapan untuk masa depan.