MAUMERE, — Suasana riang gembira memenuhi halaman Pusat Jajanan dan Cinderamata (PJC) Kota Maumere, Jumat (23‑10‑2026) sore, saat ratusan anak mengikuti kegiatan pemulihan psikis pasca‑gempa bumi 15 Agustus 2026. Kegiatan bertajuk “Laba Limang: Bahagia Bersama Anak Nian Tana Sikka” diselenggarakan Kementerian Kebudayaan RI dengan dukungan Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) serta Pemerintah Kabupaten Sikka.
Sebanyak 240 siswa dari 12 sekolah di wilayah terdampak gempa mengikuti sembilan jenis permainan rakyat, antara lain congklak, egrang bambu, gasing, tali merdeka, laba limang, gala asin, engklek, dan tumbu blanga. Anak‑anak tampak riang berlari, berteriak kegirangan, dan saling berinteraksi satu sama lain.
“Senang sekali karena kami bisa bermain permainan yang ditinggalkan dan menjalin keakraban dengan teman‑teman lain,” ujar Yohana Ani Koten, siswi Kelas IX SMP Bina Wirawan yang tampak asyik bermain engklek dan egrang.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Kemenbud RI, Judi Wahyudin, menjelaskan bahwa permainan rakyat termasuk obyek pemajuan kebudayaan sesuai Undang‑Undang Nomor 5 Tahun 2017. Di wilayah NTT saja tercatat 162 jenis permainan rakyat yang dapat dimanfaatkan untuk olah rasa dan olah pikir anak‑anak. Di tengah dampak pasca‑gempa, kegiatan ini bertujuan membantu pemulihan psikis sekaligus menguatkan kebersamaan antar anak.
“Harapan kami dengan sajian laba limang dan jenis lainnya, mudah‑mudahan adik‑adik bisa semangat lagi, saling menguatkan kembali melalui permainan tradisional ini,” ucap Judi Wahyudin.
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago yang secara resmi membuka kegiatan ini mengapresiasi sinergi antara pemerintah pusat, KPOTI, dan pemkab daerah. Ia menyampaikan bahwa saat ini anak‑anak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gawai, sehingga kehadiran permainan rakyat dapat menjadi alternatif aktivitas yang lebih sehat untuk melatih kelincahan dan kecerdasan.
“Olahraga ini lebih sehat, kuat, latih kelincahan, kecerdasan, kepintaran. Ini sangat bermanfaat,” tegas Bupati Juventus.
Bernadetha Nona Ida, guru SDI Misir yang membawa 20 siswanya hadir, berharap permainan tradisional ini nantinya dapat dimasukkan ke dalam program ekstrakurikuler sekolah. “Mereka senang sekali. Mungkin ke depan di sekolah kami bisa buat permainan tradisional lagi sebagai ekstrakurikuler,” katanya.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, Bupati bersama tamu undangan memainkan gasing sebagai tanda pembukaan. Tim penyelenggara juga menyerahkan bantuan perlengkapan sekolah secara simbolis untuk perwakilan siswa dari Pulau Palue, wilayah terluar Sikka yang paling terdampak gempa. Bantuan tersebut nantinya akan dikirim langsung ke Pulau Palue mengingat keterbatasan akses transportasi sehingga siswa di sana belum dapat hadir di Maumere.