Lembor - Warga Desa Siru, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur meminta kepala desa (kades) untuk segera melakukan evaluasi kinerja kepemimpinan selama beberapa tahun ini.
Bagi warga mestinya diakhir masa jabatan, seorang kepala desa menunjukkan kedewasaan kepemimpinan dengan melakukan evaluasi terhadap kinerja selama bertahun-tahun menjabat. Evaluasi itu penting agar masyarakat tahu apa yang sudah berhasil dan apa yang masih menjadi pekerjaan rumah.
Namun yang terjadi di Desa Siru justru menimbulkan tanda tanya besar. Di saat masa jabatan hampir berakhir, perhatian justru lebih difokuskan pada pembangunan kantor desa melalui program CSR. Padahal, persoalan yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat selama ini adalah kondisi jalan yang rusak dan belum mendapat perhatian serius.
Lima kampung Kolong, Copa, Siru Beo, Mboleng, dan Lita masih menghadapi masalah akses jalan yang memprihatinkan. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat justru seolah bukan prioritas utama.
Seorang warga yang enggan namanya dipublikasi mengatakan, kami masyarakat desa, tentu tidak menolak pembangunan kantor desa. Tetapi pertanyaannya,apakah kantor yang megah lebih mendesak dibanding jalan yang setiap hari dilalui warga untuk bekerja, bersekolah, dan mengangkut hasil kebun?
Di akhir masa jabatan, yang dibutuhkan bukan sekadar proyek yang terlihat secara fisik, tetapi tanggung jawab moral untuk menuntaskan masalah yang paling dirasakan masyarakat. Kepemimpinan sejati bukan diukur dari bangunan yang berdiri, melainkan dari seberapa besar perubahan nyata yang dirasakan warga.
Jangan sampai masa jabatan berakhir tanpa meninggalkan solusi bagi persoalan mendasar yang selama ini dikeluhkan masyarakat. Warga berhak mendapatkan pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka, bukan sekadar proyek yang terlihat indah di atas kertas.