Lembata - Keberadaan belasan gunung dan kerucut vulkanik di tanah Atadei menegaskan posisinya sebagai lumbung energi panas bumi dengan ancaman bencana yang sangat tinggi sebabnya, pertimbangan mitigasi tingkat tinggi perlu diambil mengingat "lantai" Atadei berpijak di atas retakan sesar dan dapur magma yang masih menyisakan panas.
Struktur Bawah Tanah sangat rapuh, hal ini menjadi Fakta menarik yang terungkap dari data pengeboran
sumur landaian temperatur ATD-1 dan ATD-2.
Pada sumur ATD-2, ditemukan fenomena loss of circulation (hilang sirkulasi) yang berulang pada kedalaman 81,5 m hingga 250,9 m.
Dalam bahasa awam, hal ini menunjukkan bahwa batuan di bawah tanah tersebut sangat retak dan pecah-pecah. Meskipun mineral lempung di sana berfungsi sebagai cap rock (batuan penudung), akan tetapi banyaknya rekahan menandakan struktur tanah yang tidak masif, yang perlu diwaspadai dalam pembangunan infrastruktur berat.
Dari Digital Library ITB, dapat ditelusuri dokumen studi lapangan panas bumi yang memuat fakta mencengangkan mengenai kepadatan aktivitas vulkanik di kawasan seluas 31,2 km persegi ini
Demikian juga laporan geologi menjelaskan, wilayah Kecamatan Atadei dikepung belasan struktur gunung api yang dibelah oleh sesar-sesar aktif yang sangat berisiko.
Dalam laporan tersebut juga diungkapkan bahwa Atadei berada di "jantung" aktivitas magmatik purba dan modern. Yang secara spesifik, dokumen tersebut mencatat adanya tiga gunung api aktif (Tipe A) yang mengepung lapangan panas bumi ini.
Namun, jika ditelusuri dari pusat-pusat erupsi yang membentuk lanskap Atadei, jumlahnya jauh lebih banyak.
Berikut adalah deretan nama gunung dan pusat erupsi yang teridentifikasi dalam struktur geologi Atadei:
lle Kimok (di ujung utara)
Ile Mauraja
lle Guakerada
G. Atalojo (memiliki struktur kawah/kaldera)
lle Kedang
lle Lamakeba
lle Benolo
lle Werung
G. Hobal (di ujung selatan)
lle Watuwawer (pusat erupsi yang signifikan)
lle Bauraja
lle Kewiki
lle Watulolo
Total terdapat setidaknya 13 struktur vulkanik yang disebutkan berkontribusi pada pembentukan batuan dan aliran lava di kawasan ini.
Para ahli geologi memetakan deretan kerucut vulkanik yang tumbuh memanjang dari utara ke selatan, seolah membentuk tulang
punggung api.
Kerucut-kerucut vulkanik muda ini umumnya memiliki ketinggian 200 hingga 300 meter dari dataran sekitarnya, menciptakan topografi yang unik namun menantang.
Keindahan deretan gunung ini menyimpan risiko geologi yang nyata. Laporan geologi menyoroti bahwa kawasan ini dikontrol oleh struktur kelurusan (lineament) besar yang memotong hingga ke batuan dasar (basement).
1. Ancaman Sesar Aktif
Terdapat tiga sesar utama yang menjadi "jalan tol" bagi fluida panas dari perut bumi, namun juga menandakan ketidakstabilan tanah:
• Sesar Watuwawer (Sesar Normal)
• Sesar Lewo Kebingin
• Sesar Mauraja
2. Risiko Permukaan (Manifestasi Panas)
Risiko langsung bagi penduduk atau pengunjung adalah keberadaan tanah nanas (steaming around). dan fumarol.
Di Watuwawer dan Lewo Kebingin,
suhu tanah tercatat mencapai 96°C hingga 98°C.
Tanpa pengawasan yang ketat, area ini sangat berbahaya karena tanah yang tampak biasa bisa jadi memiliki suhu mendekati titik didih.
Kecamatan Atadei hanya berjarak 45 dari ibu kota kabupaten Lembata, provinsi Nusa tenggara timur, disana bukan tanah tandus tanpa penghuni, ada masyarakat adat yang mendiami wilayah tersebut.
Panas bumi Atadei bagi sebagian pihak adalah berkat namun demikian, ada catatan yang mengingatkan tentang ancaman bahaya yang terbuka.