Ketika bencana alam terjadi, yang paling sering disorot adalah kerusakan dan korban. Namun ada satu sisi lain yang hampir tidak pernah muncul di media: bagaimana bencana perlahan mengikis empati sosial kita.
Di tengah banjir informasi dan tragedi yang datang bertubi-tubi, kita mulai terbiasa melihat penderitaan orang lain. Setiap kali ada rumah hanyut, gempa mengguncang, atau tanah longsor menelan pemukiman, reaksi publik sering hanya berhenti pada simpati singkat di media sosial. Setelah itu, semua kembali seperti biasa—seakan bencana hanyalah konten yang lewat di timeline.
Bencana alam bukan hanya merusak alam dan infrastruktur; ia juga merusak kepekaan moral masyarakat. Ketika tragedi menjadi hal biasa, kita kehilangan kemampuan untuk peduli secara mendalam. Ini berbahaya. Karena tanpa empati, mitigasi dan solidaritas hanya akan menjadi slogan kosong.
Di beberapa daerah, warga terdampak bencana bahkan pernah memendam rasa malu untuk meminta bantuan karena takut dianggap “mengemis.” Fenomena ini jarang diberitakan. Padahal hal itu menunjukkan adanya jurang psikologis yang terbentuk antara mereka yang menderita dan mereka yang menyaksikan dari jauh.
Selain itu, bencana juga membuka tabir bahwa masyarakat sering kali tidak siap bukan karena tidak tahu risikonya, tetapi karena tidak ingin dianggap lemah. Banyak warga yang enggan mengungsi lebih awal, memilih tetap bertahan di rumah rapuh mereka, karena rasa gengsi dan ketakutan akan stigma sosial. Faktor-faktor emosional ini hampir tidak pernah dibahas dalam diskusi publik.
Padahal, keberhasilan mitigasi tidak hanya bergantung pada teknologi atau pemerintah—melainkan juga pada sikap komunitas. Empati adalah fondasi yang membuat masyarakat mau saling mengingatkan, mau bekerja sama, dan mau bertindak sebelum terlambat.
Maka, ketika kita berbicara tentang bencana alam, kita seharusnya juga berbicara tentang bencana di dalam diri kita: berkurangnya empati, memudarnya solidaritas, dan tumbuhnya jarak emosional antara yang selamat dan yang terkena dampak. Bencana yang paling berbahaya bukan hanya gempa atau banjir, tetapi ketika manusia berhenti peduli.
Hanya dengan memulihkan empati, kita bisa membangun ketangguhan sosial yang sesungguhnya—yang tidak sekadar muncul saat bencana, tetapi menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.