Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Bencana Alam dan Krisis Empati yang Diam-Diam Menggerogoti Kita Manusia

Penulis. : Yohanes Alfador Repi NIM : 43123090 Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Indonesiasurya
Kamis, 11 Desember 2025 | 21:43:09 WIB
Ilustrasi

Ketika bencana alam terjadi, yang paling sering disorot adalah kerusakan dan korban. Namun ada satu sisi lain yang hampir tidak pernah muncul di media: bagaimana bencana perlahan mengikis empati sosial kita.

Di tengah banjir informasi dan tragedi yang datang bertubi-tubi, kita mulai terbiasa melihat penderitaan orang lain. Setiap kali ada rumah hanyut, gempa mengguncang, atau tanah longsor menelan pemukiman, reaksi publik sering hanya berhenti pada simpati singkat di media sosial. Setelah itu, semua kembali seperti biasa—seakan bencana hanyalah konten yang lewat di timeline.

Bencana alam bukan hanya merusak alam dan infrastruktur; ia juga merusak kepekaan moral masyarakat. Ketika tragedi menjadi hal biasa, kita kehilangan kemampuan untuk peduli secara mendalam. Ini berbahaya. Karena tanpa empati, mitigasi dan solidaritas hanya akan menjadi slogan kosong.

Di beberapa daerah, warga terdampak bencana bahkan pernah memendam rasa malu untuk meminta bantuan karena takut dianggap “mengemis.” Fenomena ini jarang diberitakan. Padahal hal itu menunjukkan adanya jurang psikologis yang terbentuk antara mereka yang menderita dan mereka yang menyaksikan dari jauh.

Selain itu, bencana juga membuka tabir bahwa masyarakat sering kali tidak siap bukan karena tidak tahu risikonya, tetapi karena tidak ingin dianggap lemah. Banyak warga yang enggan mengungsi lebih awal, memilih tetap bertahan di rumah rapuh mereka, karena rasa gengsi dan ketakutan akan stigma sosial. Faktor-faktor emosional ini hampir tidak pernah dibahas dalam diskusi publik.

Padahal, keberhasilan mitigasi tidak hanya bergantung pada teknologi atau pemerintah—melainkan juga pada sikap komunitas. Empati adalah fondasi yang membuat masyarakat mau saling mengingatkan, mau bekerja sama, dan mau bertindak sebelum terlambat.

Maka, ketika kita berbicara tentang bencana alam, kita seharusnya juga berbicara tentang bencana di dalam diri kita: berkurangnya empati, memudarnya solidaritas, dan tumbuhnya jarak emosional antara yang selamat dan yang terkena dampak. Bencana yang paling berbahaya bukan hanya gempa atau banjir, tetapi ketika manusia berhenti peduli.

Hanya dengan memulihkan empati, kita bisa membangun ketangguhan sosial yang sesungguhnya—yang tidak sekadar muncul saat bencana, tetapi menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Dibalik Seragam Loreng, Satgas TMMD Kodim 0210/TU Tingkatkan Keimanan Melalui Ibadah Minggu

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan emosional dan sosial antara TNI dan warga di lokasi pelaksan

| Minggu, 19 Juli 2026
PLN UIP Nusra Gelar Rapat Konsinyering, Kinerja Semester I 2026 Lampaui Target

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, RDW. Manurung, menyampaikan bahwa Nilai Kinerja Organisasi (NKO) Semester I

| Minggu, 19 Juli 2026
Listan Ingatkan Waspadai "Penumpang Gelap" dalam Perjuangan Provinsi Luwu Raya!

semakin dekat sebuah cita-cita diwujudkan, semakin besar pula kemungkinan munculnya pihak-pihak yang mencoba mengganggu

| Minggu, 19 Juli 2026
Tingkatkan Pelayanan Kepada Pasien, RSU Bukit Lewoleba Lembata, Padukan dua Dokter Muda

"Kami dua bulan tanpa dokter spesialis dan sekarang kita sudah punya"ungkap Mantan Deken Lembata dengan senyum.

| Sabtu, 18 Juli 2026
Mahasiswa KKN Unwira Kupang Gelar Sosialisasi Anti - Cyberbullying di SMPN 1 Lewolema

Langkah preventif ini diharapkan mampu mempertahankan "rekor bersih" SMP Negeri 1 Lewolema dari kasus perundungan secara

| Jumat, 17 Juli 2026
Penumpang KM. Lambelu Loncat dari Kapal, Tim SAR Lakukan Pencarian di Perairan Pulau Pemana Sikka.

Lokasi kejadian diperkirakan berada di sekitar Perairan Pulau Pemana, Kabupaten Sikka, NTT, pada koordinat 8° 22.310'S

| Kamis, 16 Juli 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 8