Lembata - Pemerintah Kabupaten Lembata dalam rapat evaluasi kesehatan yang dipimpin langsung Bupati Petrus Kanisius Tuaq (26/2/2026) berkomitmen akan terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Lembata.
Kabupaten di tahun 2006 masih menghadapi masalah serius soal kesehatan seperti, kematian ibu dan anak, stunting, TBC dan HIV akan tetapi upaya meminimalisir dan mengurangi berbagai probllem kesehatan terus ditingkatkan.
Dalam rapat evaluasi bersama seluruh Kepala Puskesmas, di ruang rapat Bupati pada 25 Februari 2026, terungkap bahwa angka kematian ibu dan bayi masih menjadi perhatian utama.
Data kematian per puskesmas pada 2025 menunjukkan perlunya penguatan pelayanan kesehatan untuk ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir, dan balita.
Salah satu fokus utama adalah prevalensi stunting yang tercatat sebesar 17,8 persen pada Januari 2026, meskipun menurun signifikan dari angka 31,7 persen pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.
Angka ini masih jauh dari target nasional yang mengharapkan prevalensi stunting di bawah 14 persen pada 2026.
Beberapa kecamatan seperti Omesuri, Nubatukan, dan Wulandoni masih mencatat prevalensi stunting di atas dua digit, menandakan bahwa penanganan masalah gizi balita masih memerlukan upaya lintas sektor yang lebih intensif.
Selain stunting, masalah gizi lainnya juga menjadi perhatian. Prevalensi underweight tercatat 8,3 persen pada Januari 2026, menurun signifikan dari 21 persen pada 2024. Namun, prevalensi wasting tetap menjadi isu yang mempengaruhi kualitas kesehatan anak dan memerlukan perhatian lebih.
Pemerintah daerah menekankan pentingnya konvergensi program kesehatan di tingkat desa untuk mempercepat perbaikan status gizi di seluruh wilayah Lembata.
Dalam evaluasi juga terungkap bahwa meskipun cakupan pemeriksaan TBC meningkat dari lima puskesmas pada 2024 menjadi sepuluh puskesmas pada 2025, pelayanan untuk penyakit lainnya seperti hipertensi, diabetes melitus, dan HIV-AIDS masih membutuhkan penguatan.
Layanan untuk ODGJ berat menunjukkan peningkatan dari empat puskesmas pada 2024 menjadi tujuh puskesmas pada 2025, namun cakupan layanan HIV masih terbatas pada tiga puskesmas.
Bupati Kanis menekankan bahwa keberhasilan puskesmas diukur melalui indikator konkret seperti angka kematian ibu dan bayi, serta penanganan stunting di wilayah kerja masing-masing.
Ia menegaskan bahwa setiap kasus kematian ibu dan bayi harus ditangani secara serius, sistematis, dan terukur, serta tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa.
Pemerintah Kabupaten Lembata berkomitmen akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dengan memperkuat pelatihan tenaga medis, mulai dari bidan, perawat, hingga tenaga kefarmasian.
Rapat ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat mutu pelayanan kesehatan di seluruh puskesmas, terutama dalam upaya menurunkan angka stunting dan penyakit menular.
Keberhasilan sektor kesehatan di Lembata sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor terkait lainnya. (Prokompimkablembata)