LARANTUKA, INDONESIASURYA.COM — Kenangan dan kebersamaan pulang kembali. Ratusan alumni SMP Katolik Sanctissima Trinitas Hokeng berkumpul di Larantuka untuk melepas rindu sekaligus mengenang jejak panjang sekolah yang telah resmi ditutup permanen setelah mengabdi selama 66 tahun.
Sejarah Panjang Sekolah Hokeng
Terletak di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, SMP Katolik Sanctissima Trinitas Hokeng didirikan pada 6 Agustus 1958, dikelola kongregasi suster SSpS (Suster-Suster Pisionaris Abdi Roh Kudus) dibawah naungan Yayasan Santu Gabriel Maumere.
Pada awal berdirinya hingga tahun 1988, sekolah ini khusus menerima siswi perempuan, sebelum akhirnya membuka sistem pendidikan untuk putra-putri. Sekolah ini dikenal dengan sistem asrama yang kuat, membentuk karakter mandiri dan disiplin para siswanya.
Berdiri di atas lahan seluas sekitar 45.000 meter persegi, sekolah ini meraih Akreditasi A dari BAN-S/M pada tahun 2018.
Erupsi Lewotobi Laki-Laki, Babak Baru Berakhir
Kehadiran sekolah ini berakhir menyedihkan. Letusan dahsyat Gunung Lewotobi Laki-Laki pada awal November 2024 menyebabkan kerusakan berat pada bangunan sekolah dan menempatkannya di kawasan rawan bencana. Setelah melalui pertimbangan mendalam, Pemimpin Kongregasi SSpS di Roma memutuskan penutupan permanen sekolah ini pada Januari 2025.
Seluruh siswa telah difasilitasi untuk pindah ke sekolah lain yang lebih aman, bersama dukungan Keuskupan Larantuka.
Jejak yang Tak Terhapus
Selama 66 tahun, SMP Sanctissima Trinitas bukan sekadar tempat belajar. Bagi ribuan alumninya, sekolah ini adalah rumah kedua yang membentuk karakter, kemandirian, dan keimanan.
"Bangunan mungkin tak lagi digunakan, namun nilai-nilai yang ditanamkan di Hokeng akan terus hidup dalam diri setiap anak didiknya," ujar Bertha Dori alumni sekolah putri dalam reuni yang penuh haru di Larantuka.
Kami yang pernah diasuh di situ kini tersebar di berbagai pelosok negeri, menjadi bukti bahwa jasa dan pengabdian sekolah ini tetap abadi meski pintu gerbangnya telah tertutup pungkas Bertha Dori.
Senada dengan itu Dahlia Reda Ola, Alumni SMP Katolik Sanctissima Trinitas angkatan 2006 mengatakan, secara pribadi, ada tiga perasaan yang bercampur ketika saya berbicara tentang SMPK Sanctissima Trinitas Hokeng: sedih, terharu, dan bangga.
Saya sedih karena sekolah yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup kami kini harus berhenti beroperasi akibat bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Namun, di balik kesedihan itu, saya juga merasa terharu dan bangga karena menyadari bahwa dari sekolah inilah karakter kami mulai dibentuk.
Bagi saya, SMPK Sanctissima Trinitas Hokeng bukan sekadar tempat untuk menimba ilmu, tetapi juga tempat kami belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan kepada sesama, dan nilai-nilai kehidupan.
Kalau hari ini saya bisa berada di titik kehidupan saya sekarang, tentu ada banyak proses yang membentuk saya, dan salah satu fondasi pentingnya adalah didikan luar biasa yang saya terima di sekolah ini. Untuk itu, saya selalu bersyukur dan berterima kasih kepada para guru yang telah mendidik kami.
Sekolah ini telah menjadi bagian dari perjalanan hidup 57 angkatan.
Masing-masing angkatan memiliki cerita dan kenangannya sendiri, tetapi kami disatukan oleh satu almamater yang sama. Karena itu, bagi saya, Reuni Akbar ini bukan hanya tentang kembali mengenang masa lalu, melainkan juga tentang menjaga ikatan persaudaraan dan merawat harapan.
Saya berharap reuni ini menjadi momentum bagi seluruh alumni untuk menyatukan kepedulian dan membuka ruang perjuangan bersama agar SMPK Sanctissima Trinitas Hokeng suatu hari dapat kembali hadir bagi generasi penerus, tentu dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kelayakan lingkungan.
Sebab, ketika sebuah sekolah telah memberikan begitu banyak hal dalam membentuk kehidupan kita, rasanya cinta kepada almamater tidak cukup hanya berhenti pada kenangan. Harus ada harapan yang kita jaga bersama.
Saya ingin suatu hari nanti, generasi setelah kami tidak hanya mengenal Sanctissima Trinitas Hokeng dari cerita orang tua mereka, tetapi juga mempunyai kesempatan untuk merasakan pendidikan dan nilai-nilai kehidupan yang pernah kami dapatkan di sana.