Menunda pengerjaan tugas akhir atau skripsi merupakan fenomena umum di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa merasa tertekan menghadapi kompleksitas penelitian, tuntutan dosen pembimbing, serta rasa takut gagal. Kebiasaan menunda ini, jika berlangsung terus-menerus, dapat berdampak serius pada kesehatan mental mahasiswa.
Penundaan skripsi sering memicu stres berkepanjangan. Mahasiswa merasa waktu semakin sempit, sementara beban pekerjaan terasa semakin berat. Kondisi ini membuat pikiran terus terbebani, bahkan saat beristirahat.
Selain stres, muncul pula rasa cemas berlebihan terkait bimbingan dengan dosen, revisi yang tak kunjung selesai, dan ketakutan tidak lulus tepat waktu. Mahasiswa menjadi mudah panik, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan rasa percaya diri.
Dalam jangka panjang, penundaan tugas akhir dapat memicu gangguan tidur. Banyak mahasiswa mengalami insomnia karena terus memikirkan target yang belum tercapai. Kurang tidur memperburuk suasana hati dan menurunkan kemampuan berpikir jernih.
Tak jarang, mahasiswa juga mengalami gejala depresi, seperti kehilangan motivasi, menarik diri dari pergaulan, merasa bersalah berlebihan, dan merasa tidak berharga. Lingkaran ini sulit diputus karena rasa takut justru membuat mahasiswa semakin menghindari skripsi.
Kesimpulannya, menunda tugas akhir bukan hanya masalah manajemen waktu, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan mental. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memulai secara perlahan, membuat target kecil yang realistis, dan berani mencari dukungan agar beban psikologis tidak semakin berat.