Sebagai mahasiswa rantau yang telah tinggal di Kupang selama dua tahun, saya dulu terpesona oleh pesona tropisnya. Namun, kota ini kini menghadapi cuaca yang tak menentu pagi hujan deras, siang panas terik, sore kembali hujan lebat. Ketidakpastian ini bukan sekadar gangguan; ia telah bertransformasi menjadi ancaman serius bagi kesehatan mahasiswa dan seluruh warga Kupang.
Ingat pengalaman saya suatu hari: hujan pagi membuat jalan licin, sehingga saya terlambat ke kampus. Saat tiba, matahari membara, menyebabkan dehidrasi dan sakit kepala hebat. Sore hari, hujan kembali turun. Pulang basah kuyup, saya akhirnya memicu Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan batuk berkepanjangan selama seminggu. Ini bukan kisah unik; teman-teman saya sering jatuh sakit dan demam akibat genangan air mendadak, yang secara cepat menjadi sarang nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).
Fluktuasi cuaca ekstrem ini secara langsung meningkatkan risiko penyakit. Panas ekstrem memicu sengatan panas (heatstroke), terutama pada lansia atau pekerja luar ruangan seperti tukang ojek. Sementara itu, curah hujan tinggi menciptakan banjir kecil dan genangan air, tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti dan kuman penyebab penyakit air seperti diare, tipes, dan leptospirosis. Ini memaksa sistem imun warga bekerja terlalu keras, menjebak mereka dalam siklus sakit yang berulang.
Krisis ini bukan asumsi belaka, melainkan fakta yang didukung data. Dinas Kesehatan Kota Kupang melaporkan lonjakan kasus DBD sebesar 66% tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat frekuensi hujan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT) meningkat 39% dalam dekade terakhir. Ini membuktikan bahwa perubahan pola curah hujan yang tidak menentu adalah pemicu utama krisis kesehatan yang kita hadapi.
Ini semua adalah dampak perubahan iklim global, yang diperparah oleh deforestasi lokal dan sistem tata ruang kota yang rentan. Di lokasi vital seperti kawasan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan Jln lanudal, genangan air sering terjadi setelah hujan deras, mengindikasikan masalah drainase yang serius dan meningkatkan risiko DBD serta leptospirosis.
Kita dapat dan harus mengatasi ancaman ini melalui mitigasi terpadu. Pemerintah Kota Kupang harus memimpin dengan implementasi sistem peringatan dini cuaca yang akurat, perbaikan sanitasi, optimalisasi drainase, dan program reboisasi di daerah aliran sungai. Di sisi lain, masyarakat wajib adaptif dan proaktif, mulai dari menjaga hidrasi dan memperkuat imunitas, hingga rutin bergotong royong membersihkan saluran air dan mencegah genangan, misalnya melalui program 3M Plus.
Dengan kolaborasi yang solid antara kebijakan pemerintah dan tindakan adaptif masyarakat, kita tidak hanya akan mengurangi dampak kesehatan, tetapi juga membangun Kota Kupang yang lebih tangguh dan berketahanan iklim. Mari kita mulai aksi kesadaran ini dari kampus karena masa depan kesehatan dan ketahanan kota kita sangat tergantung pada tindakan tegas hari ini.