Cuaca tak menentu melanda Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan dirasakan semakin ekstrem dalam beberapa pekan terakhir. Perubahan kondisi cuaca terjadi secara cepat dan sulit diprediksi, sehingga berdampak langsung pada aktivitas dan keselamatan warga.
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, suhu udara di Kota Kupang tercatat mencapai 36 derajat Celsius pada siang hari. Panas ekstrem tersebut menyebabkan rasa gerah berlebih, menurunkan produktivitas, serta memicu gangguan kesehatan ringan seperti dehidrasi dan kelelahan, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Namun, kondisi panas ini kerap berubah secara mendadak. Hujan deras disertai angin kencang turun tanpa adanya tanda-tanda cuaca buruk sebelumnya. Intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat menyebabkan sejumlah ruas jalan tergenang dan mengganggu arus lalu lintas di beberapa titik kota.
Perubahan cuaca yang ekstrem dan tidak menentu ini membingungkan masyarakat, khususnya nelayan dan petani. Nelayan mengaku kesulitan menentukan waktu melaut karena cuaca cerah di pagi hari dapat berubah menjadi hujan dan angin kencang dalam hitungan jam. Sementara itu, petani menghadapi ketidakpastian dalam menentukan masa tanam dan panen akibat pola hujan yang tidak sesuai musim.
Kondisi ini juga meningkatkan risiko kecelakaan laut dan kerusakan tanaman. Angin kencang berpotensi membahayakan perahu nelayan tradisional, sedangkan curah hujan yang tidak menentu dapat merusak lahan pertanian dan mengganggu pertumbuhan tanaman pangan.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat meningkatkan penyebaran informasi prakiraan cuaca dan sistem peringatan dini, agar masyarakat dapat lebih siap menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Selain itu, edukasi mengenai dampak perubahan iklim dan langkah antisipasi juga dinilai penting untuk meminimalkan risiko bagi warga Kota Kupang.