Indonesiasurya.com - Dalam beberapa minggu terakhir, saya melihat semakin banyak warga Kupang mengeluhkan kondisi sampah yang menumpuk di sekitar beberapa titik pasar dan area pemukiman. Fenomena ini bukan hal baru, tetapi akhir-akhir ini terlihat semakin jelas dan mulai mengganggu aktivitas harian masyarakat.
Sampah Menumpuk di Titik-Titik Vital Kota
Beberapa pasar tradisional dan ruas jalan di Kupang tampak dipenuhi tumpukan plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga. Saat melewati area tersebut, bau tidak sedap sering kali muncul, terutama pada pagi hari setelah aktivitas pasar selesai. Yang membuat saya miris, tumpukan itu sering dibiarkan beberapa hari sebelum akhirnya diangkut.
Menurut pandangan saya, masalah ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga mencerminkan pola sosial masyarakat dan sistem pengelolaan lingkungan yang masih membutuhkan perhatian lebih serius.
Dampak Sosial: Bukan Sekadar Kotor, tetapi Mengganggu Aktivitas
Saya melihat langsung bagaimana pedagang, pembeli, dan warga sekitar harus beraktivitas di tengah tumpukan sampah. Ada yang terpaksa menutup hidung sambil berjalan cepat, ada pula pedagang yang kesulitan menata dagangan karena tempatnya tidak lagi nyaman. Situasi ini juga dapat mempengaruhi kesehatan, seperti memicu munculnya lalat dan bau menyengat.
Kondisi ini membuat saya bertanya-tanya: sampai kapan warga harus beradaptasi dengan lingkungan yang seperti ini?
Perlu Kerja Sama Semua Pihak
Menurut saya, persoalan sampah ini tidak boleh hanya dibebankan pada petugas kebersihan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
• Masyarakat perlu lebih sadar membuang sampah pada tempatnya.
Banyak tumpukan justru berasal dari kebiasaan membuang sampah sembarangan.
• Pedagang pasar perlu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
• Pemerintah kota perlu memperkuat pengelolaan sampah, termasuk frekuensi pengangkutan dan edukasi lingkungan.
Masalah ini sebenarnya bisa diatasi jika setiap pihak mengambil peran, meski kecil.
Kupang Butuh Lingkungan yang Lebih Tertib
Saya percaya bahwa Kota Kupang bisa menjadi kota yang lebih bersih dan nyaman. Kita sudah punya banyak contoh positif di beberapa lokasi yang mulai tertib, tinggal bagaimana itu bisa diterapkan lebih merata ke seluruh wilayah.
Akhirnya, saya menulis artikel ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan mengajak kita semua melihat kembali bagaimana kebiasaan kecil bisa berdampak besar pada lingkungan. Jika kita ingin hidup di kota yang lebih baik, maka perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri.