Indonesiasurya.com || Kupang - Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal karena keindahan alam, budaya, dan keramahannya. Namun, di tengah pesona itu, kebiasaan menggelar pesta dengan musik keras hingga fajar menyingsing (cungkil matahari) telah menjadi pedang bermata dua.
Apa yang seharusnya menjadi ekspresi kegembiraan, kini seringkali berubah menjadi teror kebisingan yang merampas hak dasar masyarakat: hak untuk beristirahat dengan tenang.
Tradisi Berbenturan dengan Kebutuhan Modern
Tidak dapat dipungkiri, musik dan pesta adalah bagian integral dari kehidupan sosial di NTT. Mulai dari pernikahan, komuni suci pertama, syukuran keluarga, pesta ulang tahun, hingga sekedar kumpul-kumpul, semuanya dirayakan dengan meriah dan ramai.
Namun, masalahnya muncul ketika rasa toleransi yang besar ini dipakai berlebihan, sampai-sampai mengganggu dan tidak menghargai orang lain yang butuh ketenangan.
Musik keras yang terus berlanjut sampai dini hari (jam 3 atau jam 4 pagi) sangat merusak kesehatan karena mengacaukan waktu tidur. Akibatnya orang yang merasa terganggu menjadi gampang stress, susah fokus, bahkan beresiko sakit jantung.
Korban utamanya adalah anak sekolah yang harus bangun pagi, para pekerja, ibu yang punya bayi, dan orang yang sudah lanjut usia, karena mereka semua terpaksa mendengar pesta itu. Padahal, ada aturannya, tapi hukum sering kali tidak tegas karena banyak yang beranggapan "ini tradisi" atau "hanya sebentar." Akhirnya, warga yang terganggu takut melapor karena khawatir dicap tidak toleran.
Menemukan Titik Temu: Pesta Beretika
Kita tidak perlu mematikan semangat pesta masyarakat di NTT. Namun, yang kita butuhkan adalah etika berpesta yang menghormati sesama.
Kegembiraan tidak harus dicapai dengan mengorbankan ketenangan tetangga. Pemerintah daerah dan aparat keamanan perlu bertindak tegas, bukan hanya mengeluarkan himbauan.
Batas waktu pukul 22.00 atau maksimal 23.00 WITA harus ditaati secara disiplin, kecuali untuk acara adat besar yang telah mendapatkan izin dan notifikasi khusus.
Mari kita jaga agar kegembiraan sekelompok orang tidak berubah menjadi penderitaan bagi masyarakat luas. NTT harus tetap meriah, tetapi kemeriahan itu harus dibungkus dengan sikap saling menghargai. Sudah saatnya kita menukar "Hingar Bingar Sampai Pagi" menjadi "Pesta yang Bahagia dan Beretika."