Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Krisis Air Bersih Desa Tanalein: Flores Timur, Negara Absen, Warga Dipaksa Hidup dengan Air Kotor

Debit sumber air yang makin menyusut saban tahun memaksa masyarakat untuk bertahan hidup dengan air yang tidak layak konsumsi.

Indonesiasurya
Selasa, 02 September 2025 | 16:28:44 WIB
Ilustrasi

Indonesiasurya.com, Larantuka - Desa Tanalein, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur provinsi NTT, air bersih sudah lama menjadi barang mewah. Sekitar 900 jiwa yang mendiami desa ini bertahun-tahun hidup dalam kepungan krisis air bersih. 

Baca juga : https://indonesiasurya.com/mantan-kades-panama-kecamatan-buyasuri-lembata-di-panggil-inspektorat-ada-apa 

https://indonesiasurya.com/bersama-ribuan-masyarakat-berdoa-untuk-indonesia-gubernur-melki-laka-lena-tegaskan-tidak-ada-tempat-bagi-perusuh-di-ntt

Debit sumber air yang makin menyusut saban tahun memaksa masyarakat untuk bertahan hidup dengan air yang tidak layak konsumsi.

Mereka yang masih mampu secara ekonomi terpaksa merogoh kocek dalam-dalam. Satu tangki air berkapasitas 5.000 liter dihargai Rp400 ribu, sementara satu drum kecil dijual Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Sebuah angka yang mencekik bagi warga desa yang sebagian besar hidup dari penghasilan rendah.

Ironisnya, air bersih yang seharusnya jadi hak dasar warga justru berubah jadi komoditas mahal.

Tokoh muda asal Tanalein yang kini berdomisili di Lewoleba, Lembata, Herman Huller, angkat suara. Ia menilai negara absen dalam menjalankan mandat konstitusionalnya.

“Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat seharusnya bertanggung jawab penuh atas kebutuhan air bersih masyarakat.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dengan tegas menempatkan kewajiban negara untuk menjamin hak rakyat atas air. Apa gunanya undang-undang kalau rakyat dibiarkan minum air kotor?” tegas Herman.

Krisis ini bukan hanya soal perut haus yang tak terpuaskan. Kegiatan vital seperti memasak, mencuci, hingga sanitasi dasar tersendat. Lebih parah lagi, penggunaan air yang tidak layak konsumsi membuka ruang bagi penyakit kulit dan ancaman wabah menular.

Namun, hingga kini, tidak ada langkah nyata yang berarti dari pemerintah daerah maupun pusat.
Desa Tanalein seolah hanya jadi catatan pinggiran yang tidak pernah masuk dalam prioritas pembangunan. Sementara rakyat kecil dibiarkan menggantung hidup dengan air kotor yang mestinya tak layak disentuh.

Pertanyaan yang menggantung kini: sampai kapan masyarakat Tanalein harus membayar mahal untuk hak hidup paling mendasar mereka, sementara negara menutup mata?(*)


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Di Muscab PAN Lembata, Hasan Baha Tegas, PAN Ibarat Matahari Tak Pernah Ingkar Janji

“Kontribusi kita sebagai kader melalui panji perjuangan PAN adalah bagian dari tujuan besar kita bermasyarakat dan ber

| Jumat, 05 Juni 2026
Desa Laranwutun Punya Penjabat Baru, Bupati Harap Pelayanan kepada Warga Meningkat

Bupati Kanisius Tuaq menegaskan bahwa penunjukan penjabat kepala desa bukan semata-mata untuk mengisi kekosongan jabatan

| Jumat, 05 Juni 2026
Dinas Kesehatan Gandeng BPOM Gelar CPPO Bagi Pelaku Industri Rumah Tangga Di Lembata

Melalui kegiatan ini diharapkan para pelaku usaha bisa menerapkan cara produksi pangan olahan yang baik di industri ruma

| Jumat, 05 Juni 2026
Mahasiswa FISIP UNWIRA Kupang Gelar, MBKM di Desa Rukuramba Ende.

"Kami menyambut baik kehadiran mahasiswa MBKM di Desa Rukuramba. Kami berharap program-program yang dijalankan dapat mem

| Jumat, 05 Juni 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 6