Indonesiasurya.com || Nagawutung, — Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) 2025 dan HUT PGRI ke-80, PGRI Kecamatan Nagawutung menginisiasi Perayaan Ekaristi pada Minggu, 23 November 2025 di Gereja St. Theresia Loang, Paroki Santa Maria Ratu Damai Mingar, Lembata.
Perayaan ini dipimpin oleh Pastor Paroki, RD. Yeremias Rongan Rianghepat, dan dihadiri umat serta para pendidik dan tenaga kependidikan dari seluruh sekolah di Kecamatan Nagawutung.
Baca juga ; https://indonesiasurya.com/pangan-terbuang-ancam-kekuatan-pangan
https://indonesiasurya.com/tongkat-gembala-berganti-pemkab-lembata-apresiasi-mgr-kopong-kung-dan-sambut-harapan-baru-uskup-monteiro
Hadir juga dalam perayaan ekaristi tersebut Camat Nagawutung, Vitalis Hubertus Wajo, S.Sos, Anggota DPRD Kab.Lembata, Yos Beda Hayon.
Yang menarik, seluruh petugas liturgi, mulai dari koor, dirigen, organis, misdinar, lektor hingga pemazmur ditangani sepenuhnya oleh para guru PGRI dari Ranting I hingga Ranting V Nagawutung.
Adapun kelima ranting tersebut meliputi puluhan satuan pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA/SMK yang tersebar di Loang, Baopukang, Lamalewar, Liwulagang, Bata, Botu, Labalimut, Atawuwur, Tewaowutung, Penikenek, Lewopenutung, Baobolak, Pasir Putih, Mingar hingga Lolong.
Sekedar diketahui, Ranting I meliputi SDI 1 Loang, SDI 2 Loang, SDI Baopukang, TKN 1 Nagawutung, TKN 2 Nagawutung, TKK Pertiwi Baopukang, TKK Yohana Gesien, SMPN 1 Nagawutung, SMPS Berdikari, SMAN 1 Nagawutung. Ranting II meliputi SDI Lamalewar, TK Lamalewar, SDK Liwulagang, TK Liwulagang, SDI Bata, TK Bolibean. Ranting III meliputi SDK Boto, TK Don Bosko, SDI Labalimut, SMPN 2 Nagawutung, SDK Atawuwur, TK Nikolaus Atawuwur. Ranting IV meliputi SDI Twaowutung, SMPN Satap Twaowutung, TK Twaowutung, SDN Penikenek, TK Penikenek, SDK Idalolong, TK Idalolong, SDK Lewopenutung, TK Lewopenutung. Dan Ranting V meliputi SDK Baobolak, TK St. Mikael, SDI Pasir Putih, SMPN Satap Pasir Putih, SDK Mingar, SMK Genova Pasir Putih, TK St. Ursula, TK Agustinus, SDI Lolong, TK St. Clarita Lolong.
Perayaan yang berlangsung khidmat tersebut terasa semakin istimewa karena bersamaan dengan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, penutup tahun liturgi Gereja Katolik.
Isi Homili: Guru sebagai Pembawa Terang dan Pendamping Kehidupan
Dalam homilinya, Pastor Yeremias Rongan Rianghepat menegaskan makna Hari Raya Kristus Raja sekaligus relevansinya dengan Hari Guru Nasional. Ia menyampaikan:
“Hari ini Gereja sejagat merayakan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, penutup tahun liturgi. Kita juga bergembira atas terpilihnya RD. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup terpilih Keuskupan Larantuka. Perayaan ini sekaligus menjadi kesempatan istimewa untuk menyapa dan menghormati para pahlawan tanpa tanda jasa—para guru—yang perjuangannya bukan di medan perang, melainkan dalam mencerdaskan kehidupan.”
Pastor Yeremias menegaskan bahwa Yesus adalah Raja yang hadir bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.
“Kristus adalah Raja yang tidak duduk di takhta kemegahan, namun datang untuk melayani. Ia rela menjadi korban di salib, bukan untuk menyelamatkan diri-Nya, tetapi untuk membawa manusia keluar dari kegelapan menuju hidup kekal. Ia tidak memikirkan kepentingan diri-Nya sendiri, karena misi-Nya adalah keselamatan umat manusia.”
Mengaitkan makna pelayanan Kristus dengan tugas seorang pendidik, ia menegaskan bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi.
“Jika guru dilihat hanya sebagai pekerjaan yang menghasilkan nafkah, maka profesi ini kehilangan roh terdalamnya. Guru adalah pembawa terang, penyalur rahmat, dan penjaga masa depan generasi. Keringat seorang guru bukan hanya tanda lelah, melainkan pengorbanan yang memantulkan pengorbanan Kristus sendiri. Guru adalah raja. Nama mereka mungkin tidak dikenang, tetapi ajaran dan teladan merekalah yang membentuk masa depan anak-anak bangsa.”
Pastor juga menyinggung realitas tantangan di dunia pendidikan.
“Banyak guru berjuang membimbing anak orang lain, namun sering gagal mendidik anak di rumah sendiri. Ketika guru menegur atau mendisiplinkan murid, tidak jarang orang tua menyambutnya dengan marah atau penuh kecurigaan. Padahal banyak tindakan guru lahir bukan dari benci, melainkan dari cinta agar anak berjalan di jalur yang benar. Karena itu, orang tua perlu memahami tugas luhur guru, agar kerja sama demi masa depan anak dapat terjalin dengan baik.”
Mengakhiri homili, Pastor Yeremias memberikan apresiasi mendalam kepada seluruh pendidik.
“Gereja dapat tersenyum dan bangsa dapat maju karena ada guru yang bekerja dari pagi sampai pagi lagi, sering tanpa penghargaan yang sepadan. Namun justru karena itu mereka disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Ketika guru kuat, bangsa kuat. Ketika guru goyah, masa depan ikut goyah. Saya bangga dan mengasihi kalian—para guru yang mengubah kegelapan menjadi terang. Tuhan tidak pernah menarik cinta-Nya dari hati kalian. Selamat merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam dan selamat merayakan Hari Guru Nasional.”
Pertemuan Indah antara Iman dan Profesi
Perayaan Ekaristi ini bukan hanya tanda syukur atas perjalanan profesi guru, tetapi juga menjadi ajang penyegaran rohani, refleksi, dan pemulihan semangat pengabdian bagi para pendidik. Sinergi antara Gereja, pendidikan, dan masyarakat terlihat nyata melalui keterlibatan penuh guru dari semua ranting PGRI Nagawutung dalam seluruh proses liturgi.
Perayaan Ekaristi dalam rangka HGN 2025 ini menjadi pertemuan indah antara iman dan profesi. Bagi para pendidik di Kecamatan Nagawutung, misa ini menjadi sumber kekuatan baru untuk terus mengabdi dengan hati, mencerdaskan kehidupan bangsa, menabur terang, dan melanjutkan tugas Kristus Raja: melayani, membimbing, dan menyelamatkan kehidupan manusia. (Hans)