Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Hermeneutik ‘Titi Jagung’ dan Wajah Otonomi yang Membumi

Penulis : Anselmus DW Atasoge

Indonesiasurya
Sabtu, 11 Oktober 2025 | 17:57:20 WIB
Anselmus DW Atasoge

Perayaan Hari Ulang Tahun Otonomi Daerah ke-26 di Kabupaten Lembata tahun ini menghadirkan sesuatu yang berbeda. Di tengah semarak seremoni dan pidato resmi, hadir lomba Titi Jagung yang diikuti oleh para Aparatur Sipil Negara.

Kegiatan ini berlangsung hangat dan penuh semangat. Di balik tawa dan tepuk tangan, tersimpan pesan sosial yang kuat. Pesan itu terpatri di balik aktivitas lombanya.

Sejatinya, titi jagung merupakan ‘cerminan cara hidup masyarakat agraris yang menjunjung tinggi kerja sama dan kebersamaan’. 


Bagi masyarakat Lamaholot pada umumnya, jagung tidak hadir sebatas sebagai ‘bahan pangan’. Jagung adalah simbol identitas lokal masyarakat Lamaholot termasuk Lembata.

Dalam tradisi titi jagung, warga berkumpul, saling membantu, dan berbagi cerita. Proses ini membentuk ruang sosial yang memperkuat ikatan antarindividu.

Ketika ASN ikut serta dalam kegiatan ini, mereka hadir sebagai bagian dari komunitas. Mereka menunjukkan bahwa birokrasi bisa menyatu dengan budaya masyarakat pada umumnya. Toh, mereka juga datang dari budaya itu. 


Kegiatan Titi Jagung memperlihatkan wajah otonomi daerah yang membumi. Otonomi di sini tidak ‘berkutat’ seputar kewenangan administratif. Ia adalah ruang untuk merawat nilai-nilai lokal.

Ketika jagung dipipil bersama, ketika tawa bergema di antara barisan ASN dan warga, saat itulah ‘otonomi menemukan maknanya’. Di sini hadir titik hermeneutiknya.

Pemerintah hadir bukan sebagai pengatur dari atas, tetapi sebagai mitra yang ikut duduk di tikar, ikut memegang tongkol, ikut merasakan denyut kehidupan masyarakat. 


Lomba Titi Jagung juga menjadi ruang dialog sosial. Peserta saling menyemangati. Warga dan ASN tertawa bersama. Hubungan formal menjadi cair. Interaksi menjadi lebih manusiawi. Dalam suasana sederhana, tercipta kepercayaan.

Solidaritas tumbuh. Pemerintah tidak lagi dipandang jauh, tetapi dekat dan akrab. Inilah bentuk kohesi sosial yang dibutuhkan dalam pembangunan.



Ketika otonomi daerah memberi ruang bagi budaya lokal untuk tampil, masyarakat merasa dihargai. Mereka merasa dilibatkan. Mereka merasa bahwa pembangunan tidak hanya soal jalan dan gedung, tetapi juga tentang jagung, tentang cerita, tentang kebersamaan.

Di sinilah pesan moral dan sosial terpatri. Bahwasanya, melalui Titi Jagung, masyarakat Lembata menyampaikan pesan bahwa  ‘pembangunan harus berjalan bersama tradisi’. Dan, pemerintah harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya, tidak hanya ‘bergelimpangan AC di ruang-ruang rapat’. 


Di titik ini, perayaan otonomi daerah di Lembata menemukan wajahnya. Wajah yang sederhana, tetapi kuat. Wajah yang tidak dibentuk oleh angka dan grafik, tetapi oleh tawa, kerja bersama, dan semangat lokal.

Titi Jagung adalah bukti bahwa ketika budaya lokal diberi ruang, pembangunan menjadi lebih bermakna. Lebih manusiawi. Lebih Lembata.

Anselmus DW Atasoge_Stipar Ende


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

Anggaran Terbatas, Tahun 2026 Di Lembata Nyaris Tak Ada Paket Proyek Yang Di Tender

Paket pekerjaan apbd tahun 2026 lebih pada pengadaan langsung karena, pagu di bawah 200 juta dengan metode e-katalog" un

| Rabu, 03 Juni 2026
Stok Obat Di Gudang Dinas Kesehatan Ada, Plt.Kadis Kesehatan "Tidak Benar Kalau Dibilang Kosong"

Ada 69 Koli obat di gudang farmasi dinas kesehatan, tinggal permintaan dari puskesmas maka, kami akan diatribusikan ke m

| Selasa, 02 Juni 2026
Tujuh Pria Dewasa Diduga Keroyok Siswa 14 Di Ileape. Keluarga Lapor Polisi

"Anak ini menolak, tetapi tetap dipaksa naik sepeda motor dan dibawa ke Petuntawa. Setibanya di sana, dia disuruh duduk

| Senin, 01 Juni 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 22