Lembata, IndonesiaSurya.com — Aula Frateran Don Bosco pada Rabu (10/12/2025) menjadi ruang kolaborasi paling dinamis bagi para kepala sekolah dan guru SD, SMP, SMA/SMK se-Kabupaten Lembata. Pelaksanaan IN-2 Pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM), yang merupakan kelanjutan dari tahapan IN-1 dan ON, ditutup dengan rangkaian Talk Show dan Gelar Karya yang membuka ruang refleksi, dialog inspiratif, serta eksposisi praktik baik berbasis pengalaman nyata para peserta.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Wenseslaus Ose, S.Sos., M.AP, setelah laporan kegiatan disampaikan oleh Ketua Panitia, Heribertus Bali.
Dalam laporannya, Heribertus menegaskan bahwa pelatihan ini bukan hanya memenuhi mandat kebijakan Kurikulum Nasional, tetapi juga langkah strategis membangun budaya belajar yang reflektif dan kolaboratif di tingkat satuan pendidikan.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Korwas dan Pengawas Dikmensus, Korwas dan Pengawas Dikdas, para kepala sekolah, guru lintas jenjang, para Fasilitator Daerah Pembelajaran Mendalam, serta seluruh peserta yang mengikuti rangkaian pelatihan. Total peserta berjumlah 100 orang, terdiri atas: Kepala Sekolah: SD (14), SMP (9), SMA (4), SMK (1); Guru: SD (30), SMP (28), SMA (11), SMK (3).
Pembukaan: Pendidikan Lembata Menuju Transformasi Substansial
Dalam sambutannya, Kadis Pendidikan menegaskan bahwa tantangan pendidikan tahun 2025 menuntut perubahan mendasar.
Pendidikan tidak lagi cukup mengajarkan “apa yang siswa tahu”, tetapi harus mengembangkan kemampuan siswa untuk memaknai, mengolah, dan mengaplikasikan pengetahuan itu secara bertanggung jawab dan kreatif.
“Deep Learning bukan hanya metode. Ini adalah perubahan paradigma,” tekannya.
Ia mendorong guru untuk berani membuka ruang refleksi yang jujur, menyampaikan keberhasilan sekaligus tantangan yang dihadapi, serta menjadikan kelas sebagai ruang dialog profesional. Pembelajaran mendalam, menurutnya, harus menghasilkan peserta didik yang tangguh, kritis, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya Lamaholot dan Edang.
Suhartin Bungalaleng: Menguatkan Ekosistem Pembelajaran yang Kolaboratif
Selaku PIC KKA dan PM Kabupaten Lembata, Suhartin Bungalaleng, S.A.P yang ditemui usai kegiatan, memberikan penguatan mengenai tujuan penyelenggaraan IN-2. Ia menegaskan bahwa guru harus menjadi perancang pembelajaran yang menghidupkan proses berpikir tingkat tinggi, sementara kepala sekolah menjadi penggerak perubahan yang menciptakan iklim belajar inovatif.
Keberlanjutan ekosistem PM, ujarnya, sangat bergantung pada komitmen dinas, pengawas, kepala sekolah, dan komunitas guru untuk terus mengawal pelaksanaannya secara konsisten dan kolaboratif.
TALK SHOW: Ruang Refleksi, Inkuri, dan Transformasi Lintas Jenjang Sesi Talk Show menjadi bagian yang paling reflektif dalam rangkaian penutupan. Empat narasumber—tiga guru perwakilan jenjang SD, SMP, SMA/SMK serta satu kepala sekolah—menghadirkan pengalaman autentik sepanjang proses IN–ON–IN.
Para narasumber menuturkan transformasi nyata yang mereka alami: mulai dari keberanian membuka kelas, praktik inkuri kolaboratif, hingga perubahan cara pandang terhadap peran guru sebagai fasilitator berpikir. Dialog berlangsung hangat dan jujur, memperlihatkan bahwa praktik pembelajaran mendalam benar-benar menyentuh aspek personal maupun profesional para pendidik.
GELAR KARYA: Bukti Transformasi Nyata dari Ruang-ruang Kelas
Puncak kegiatan adalah Gelar Karya, di mana peserta memamerkan perangkat ajar, asesmen, video open class, serta artefak karya belajar siswa. Gelar karya ini menegaskan bahwa pelatihan tidak berhenti pada level konsep, tetapi telah bertransformasi menjadi praktik nyata di sekolah masing-masing.
Aula Don Bosco berubah menjadi galeri inovasi yang memperlihatkan perangkat pembelajaran berbasis learning progression, asesmen autentik yang kontekstual dengan lingkungan Lembata, LKPD yang mendorong penalaran tingkat tinggi, dan dokumentasi proses pembelajaran yang menunjukkan kelas-kelas mulai beralih menuju budaya reflektif dan kolaboratif.
Para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, menandakan bahwa perubahan paradigma telah mulai mengakar.
Suara Peserta: Pendidikan Adalah Proyek 100 Tahun
Dalam sesi kesan dan pesan, Yohanes Paulus Pito Koban, S.Fil, guru SMAN 1 Nagawutung, mewakili seluruh peserta pelatihan menyampaikan refleksi mendalam tentang perubahan cara pandang guru terhadap esensi profesi mengajar.
Hans menekankan bahwa pelatihan ini bukan hanya memperkuat kapasitas teknis, tetapi membangun persaudaraan, kolaborasi lintas jenjang, serta keberanian guru membuka kelas untuk menerima masukan. Ia juga menyoroti pentingnya meninggalkan pola pembelajaran konvensional dan berpindah menuju pembelajaran yang menempatkan murid sebagai subjek aktif. Ia menggugah peserta dengan refleksi sederhana namun kuat:
“Apa yang saya tahu belum tentu diketahui orang lain, dan apa yang orang lain tahu belum tentu saya tahu.” Ungkapan ini merefleksikan inti dari inkuri kolaboratif yang menjadi napas Pembelajaran Mendalam.
Di akhir pesannya, ia mengutip filsuf Tiongkok, Kuan Tzu:“Jika Anda hanya memprihatinkan keadaan setahun mendatang, cukuplah Anda taburkan benih. Jika Anda memprihatinkan keadaan sepuluh tahun mendatang, tanamlah sebuah pohon. Dan jika Anda memprihatinkan keadaan seratus tahun mendatang, berikanlah pendidikan yang benar kepada rakyat.”
Pernyataan ini menjadi rangkuman filosofis dari perjalanan para guru: pendidikan adalah investasi yang melampaui generasi.
Penutup: Pelatihan Berakhir, Transformasi Baru Dimulai
Pelatihan IN-2 resmi ditutup oleh Koordinator Pengawas Dikmensus Kabupaten Lembata, Yohanes Mamun, S.Pd., M.Pd. Penutupan ini menandai berakhirnya rangkaian kegiatan, tetapi sekaligus membuka babak baru dalam komitmen para pendidik Lembata untuk terus mengawal perubahan pembelajaran.
Korwas Dikmensus bersama para peserta berharap agar Dinas Pendidikan tetap menyediakan ruang-ruang profesional seperti MGMP, KKG, IHT, dan workshop berkelanjutan sebagai wadah refleksi dan peningkatan kualitas pembelajaran.
Dengan semangat Taan Tou, kegiatan ini meneguhkan langkah pendidikan Lembata menuju transformasi yang lebih bermakna: berbasis refleksi, kolaborasi, dan keberpihakan pada peserta didik. (Hans K.)