INDONESIASURYA - Masalah kemiskinan dan konflik sosial di Nusa Tenggara Timur sering dijelaskan seolah-olah hanya disebabkan oleh alam yang kering, kualitas pendidikan yang rendah, atau masyarakat yang “kurang produktif”.
Kenyataannya, jika ditelusuri lebih dalam, kemiskinan dan konflik sosial di NTT bukan hanya realitas, tetapi hasil dari pola kebijakan yang timpang, investasi yang tidak adil, dan pembangunan yang salah arah selama puluhan tahun.
Beberapa kritik utama saya :
1. Pemerintah selama puluhan tahun mensentralisasi pembangunan, NTT hanya dapat sisa.
NTT sering dijadikan contoh “daerah tertinggal”, tetapi yang jarang diungkap adalah :
* Investasi negara sejak era Orde Baru hingga sekarang selalu condong ke Jawa dan Bali.
* Infrastruktur dasar (air bersih, irigasi, jalan) di NTT tidak pernah menjadi prioritas nasional.
* Akibatnya, masyarakat hidup dalam kondisi serba kurang, bukan karena malas, tetapi karena negara tidak hadir secara memadai.
Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat jika sistem sejak awal tidak menyediakan fondasi yang layak.
2. Konflik Agraria Bukan Masalah Budaya, tetapi masalah kekuasaan.
Beberapa artikel sering menggambarkan konflik di NTT seolah itu persoalan adat, benturan suku, atau kesalahpahaman lokal.
Padahal faktanya :
* Banyak konflik dipicu oleh perebutan lahan antara masyarakat vs. perusahaan, atau masyarakat vs. pemerintah.
* Banyak izin konsesi diberikan tanpa konsultasi dengan masyarakat adat.
* Sengketa tanah bukan konflik horizontal tetapi konflik struktural antara yang berkuasa dan yang tidak punya kekuatan.
Menyederhanakan konflik sebagai persoalan budaya justru menutup fakta bahwa ketidakadilan hukum dan pengelolaan sumber daya yang buruk adalah akar masalahnya.
3. Diversifikasi ekonomi yang disebut sebagai solusi kadang justru memperparah masalah.
Sering dikatakan bahwa pariwisata, tambang, atau investasi swasta bisa menjadi solusi.
Tetapi :
* Pariwisata tanpa regulasi jelas justru rentan mengorbankan lahan masyarakat dan mengabaikan ekologi.
* Pertambangan di NTT sering meninggalkan kerusakan ekologis yang jauh lebih mahal dari nilai ekonominya.
* Masyarakat adat sering “dijadikan objek” dalam proyek investasi, bukan mitra.
Ketika solusi hanya berorientasi pada kapital, kemiskinan bisa berkurang di angka statistik tetapi meningkat di kehidupan nyata.
4. NTT selalu dilihat dari perspektif defisit, padahal pemerintah tidak pernah mengoptimalkan potensinya.
NTT sebenarnya kaya akan hasil laut yang melimpah, lahan peternakan, energi terbarukan (angin, matahari), budaya dan pariwisata, dan komunitas adat dengan sistem sosial kuat.
Tetapi potensi ini tidak dikelola dengan baik karena kebijakan yang tidak berbasis data lokal, tidak mengakomodasi kearifan masyarakat adat, terlalu top-down, dan sering hanya mengejar angka jangka pendek. Akibatnya, potensi yang besar hanya jadi panggung retorika, bukan kesejahteraan nyata.
5. Masalah pendidikan dan kesehatan bukan karena sdm lemah — tapi karena negara tidak serius.
Sering muncul narasi bahwa “SDM NTT tertinggal”, padahal, banyak sekolah kekurangan guru dan fasilitas dasar, akses ke perawatan kesehatan jauh dan mahal, anggaran sering tidak tepat sasaran, dan program pemerintah yang tidak berkelanjutan. Jika negara tidak memberikan prasyarat untuk mobilitas sosial, tidak adil menyalahkan masyarakat karena miskin.
Kesimpulan Kritis yang bisa saya ambil adalah NTT tidak butuh belas kasihan tetapi NTT butuh keadilan. Jika kita ingin jujur, kemiskinan dan konflik sosial di NTT bukan hanya akibat kondisi alam atau budaya lokal akan tetapi juga karena kegagalan negara dalam pemerataan pembangunan, ketidakadilan dalam pengelolaan sumber daya, lemahnya perlindungan masyarakat adat, dan kebijakan ekonomi yang tidak berpihak.
Selama masalah struktural ini tidak dibenahi, apapun program bantuan hanya akan menjadi plester di atas luka dalam.