Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Eliminasi Anjing Liar: Solusi Kesehatan atau Kegagalan Komunikasi Publik?

Ditulis oleh: Natasha Kesya Unbanunaek (43123035) Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mandira Katolik

Indonesiasurya
Senin, 27 Oktober 2025 | 14:54:36 WIB
Ilustrasi

Kasus rabies di Desa Wejang Mawe, Manggarai Timur, kembali membuka mata kita tentang pentingnya komunikasi publik dalam situasi krisis. Pemerintah daerah telah memutuskan untuk melakukan eliminasi anjing liar, sebuah langkah yang sering dianggap cepat dan efektif. Namun, dari sudut pandang komunikasi, kebijakan semacam ini perlu dikaji lebih dalam: apakah masyarakat benar-benar memahami alasan di balik tindakan itu?

Sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi, saya melihat bahwa permasalahan rabies tidak hanya soal kesehatan hewan, tetapi juga soal komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Komunikasi yang Terlambat Bisa Memicu Kepanikan.Setiap krisis membutuhkan komunikasi yang cepat, jujur, dan empatik. Dalam kasus Wejang Mawe, masyarakat baru heboh setelah muncul korban meninggal dan pemberitaan media meluas. Padahal, kalau informasi mengenai bahaya rabies, jadwal vaksinasi, dan cara penanganan gigitan sudah disosialisasikan sejak awal, kepanikan publik mungkin bisa dihindari.

Bukan berarti pemerintah tidak bekerja. Tetapi, dalam situasi seperti ini, komunikasi krisis harus berjalan sejajar dengan tindakan lapangan. Informasi yang tidak tersampaikan dengan baik bisa menimbulkan kesalahpahaman bahkan resistensi terhadap kebijakan eliminasi hewan.

Media lokal seperti Pos-Kupang.com memiliki peran penting dalam membantu menyebarkan pesan kesehatan publik. Namun, agar pesan benar-benar sampai, bahasa komunikasi harus disesuaikan dengan budaya masyarakat.

Sebagai contoh, di banyak daerah di NTT, anjing bukan sekadar hewan peliharaan, tapi bagian dari kehidupan sosial. Maka, pesan “eliminasi” bisa terdengar keras dan menakutkan. Pemerintah perlu menggunakan pendekatan yang lebih persuasif — misalnya dengan istilah “penertiban hewan liar” dan menekankan aspek perlindungan masyarakat.

Kebijakan kesehatan yang berhasil selalu melibatkan masyarakat sebagai mitra, bukan sekadar objek. Pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh adat, dan pemuda harus duduk bersama untuk menyusun strategi komunikasi yang relevan dengan konteks lokal.

Dengan demikian, masyarakat bukan hanya menerima informasi, tapi juga merasa punya tanggung jawab bersama untuk mencegah rabies.

Sebagai calon komunikator, saya belajar bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga membangun pemahaman dan kepercayaan.
Kasus rabies di Wejang Mawe seharusnya menjadi pelajaran berharga bahwa di balik setiap kebijakan kesehatan, ada kebutuhan besar akan komunikasi yang lebih manusiawi, transparan, dan berempati.


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Terkini

KKO FC Kirim Surat Tegas ke ASKAB Lembata : Minta Sanksi Untuk Hidup FC dan Hentikan Jadwal Lanjutan

Berdasarkan MCM Pasal 8 Ayat 8, Kode Disiplin PSSI 2023 Pasal 28 Ayat 1 & 2, serta Pasal 58 tentang sikap tidak sportif/

| Rabu, 21 Oktober 2026
KISRUH LIGA II PSSI LEMBATA: KKO FC LAYANGKAN PENGADUAN, ASKAB DINILAI TIDAK PROFESIONAL

Syukur menjelaskan, saat wasit memutuskan penalti untuk KKO, pihak lawan memprotes. Seharusnya, jika wasit ragu, dapat m

| Rabu, 21 Oktober 2026
Ahmad Yohan: Politik Indah Jika Kita Bersama, Jangan Biarkan Syahwat Politik Rusak Pembangunan Lembata

Ahmad Yohan mengingatkan seluruh elemen bangsa agar tidak membiarkan kepentingan politik sesaat menghambat kemajuan daer

| Selasa, 20 Oktober 2026
Rakerda dan Pelantikan DPC PAN Lembata Resmi Digelar, Ahmad Yohan Hadir Langsung

Rakerda ini menjadi wadah penting bagi PAN Lembata untuk memperkuat soliditas organisasi, mengevaluasi program kerja yan

| Selasa, 20 Oktober 2026
Enam Unit Motor Terbakar di Depan SPBU Balauring Lembata, Polisi Masih Dalami Pelaku dan Motifnya

Sebagian besar motor tersebut sengaja ditinggal pemiliknya di sekitar SPBU karena digunakan untuk antri bahan bakar miny

| Selasa, 20 Oktober 2026
Warga Alap Atadei Lembata Hilang di Laut, Pencarian Masih Berlangsung

Warga melakukan pencarian dan menemukan sampan milik korban dalam keadaan kosong. Peralatan memancing masih ada di dalam

| Selasa, 20 Oktober 2026
Keuskupan Agung Ende Gugat Penetapan Flores Sebagai Pulau Panas Bumi

Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Integritas Keuskupan Agung Ende, Tigor Naingolang, menjelaskan ketiga kebijakan in

| Senin, 19 Oktober 2026
PERPAMSI NTT Dorong Advokasi dan Kemitraan untuk Memperkuat BUMD Air Minum

Dalam pemaparannya bertajuk “Advokasi dan Kemitraan untuk Memperkuat BUMD Air Minum di NTT”, Olahara menyampaikan ra

| Sabtu, 17 Oktober 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 13