Sepak Bola NTT (Sebuah Catatan)
Persebata Lembata tim dari pulau bernama Lomblen yang Lahir dari keterbatasan, tanpa fasilitas mewah, mereka bermain di lapangan tanah bergelombang dan penuh krikil, tetapi mereka punya harga diri. Dan harga diri itulah yang menjaga agar Persebata tetap berdiri di tengah badai.
Sebuah goresan pena Ahmad Bumi di Minggu pagi (28/12/2025) mengugah pencinta sepak bola NTT pada umumnya dan anak Pulau Lembata yang mencintai tim kebanggaan Persebata Lembata yang kini kokoh di liga 3 Nasional.
Fenomena sepak bola Anak Pulau di Panggung Nasional, mencatat sejarah, Punggawa Persebata Lembata membawa karakter. Sepak bola keras, disiplin, dan penuh determinasi,
Persebata Lembata adalah simbol perlawanan terhadap stigma. Bahwa kabupaten miskin tidak selalu identik dengan ketertinggalan prestasi. Bahwa pulau kecil pun bisa bersuara di panggung nasional. Bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari kota besar.
Kabupaten Lembata dengan keterbatasan geografis dan ekonomi, telah melahirkan tim Persebata Lembata yang hari ini berdiri tegak di level Nasional.
Ahmad Bumi dalam tulisan mengatakan bahwa, pencapaian persebata Lembata ini, bukan sekadar soal sepak bola, melainkan tentang harga diri, ketekunan, dan keberanian bermimpi besar dari sebuah pulau kecil bernama Lomblen,
Persebata lahir dari kabupaten yang kerap dilabeli miskin, tertinggal, dan jauh dari pusat perhatian. Namun ditengah Keterbatasan itu ada talenta muda harta berharga yang masih berpegang teguh pada komitmen serta konsisten dalam mengejar mimpi anak Pulau yang haus prestasi
Statistik tidak bisa dibohongi Kabupaten Lembata dalam keterbatasan tapi telah melahirkan Persebata yang tidak datang dari fasilitas mewah, Anak - anak pulau ini bermain dilapangan tanah, dengan sepatu usang,
Mereka tidak sekedar memberi warna di liga 3 Nasional, mereka bukan sekedar pelengkap, Mereka mampu menguburkan mimpi sejumlah tim yang lebih siap secara fasilitas dan anggaran Ini menjadi, bukti nyata perjalanan panjang antar pulau tidak pernah cukup kuat memadamkan mimpi mereka.
Memenangi sejumlah laga krusial dari tim besar di Liga 3 Nasional adalah bukti bahwa Persebata tidak sekadar numpang lewat. Ia datang membawa karakter. Sepak bola keras, disiplin, dan penuh determinasi, cermin dari watak orang Lembata itu sendiri.
Klub-klub dari kota besar mungkin datang dengan fasilitas lengkap dan dana berlimpah, tetapi Persebata datang dengan jiwa.
Kebanggaan ini semakin bermakna karena keberhasilan Persebata tidak dibangun oleh kemewahan. Ia dibangun oleh keringat pemain lokal, doa orang tua di kampung-kampung pesisir, dan gotong royong anak-anak muda yang percaya bahwa klub ini adalah milik bersama.
Di saat dana terbatas, kreativitas menjadi senjata. Ada yang menyumbang tenaga, ada yang menyumbang waktu, ada pula yang membuka dompet sekadarnya, semua demi satu tujuan, Persebata harus bertahan dan terus melangkah.
Anak-anak muda Lembata menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Mereka mengorganisir dukungan, menggerakkan solidaritas, dan merawat semangat kolektif.
Bangga pada Persebata bukan sekadar soal menang atau kalah. Ini tentang keberanian untuk bersaing secara terhormat, tentang membuktikan bahwa Lembata mampu. Persebata telah membuka jalan, tugas kita adalah menjaga api ini tetap menyala, dengan cara yang benar, bermartabat, dan berkelanjutan.
Dari pulau kecil, untuk Indonesia. Persebata Lembata, miskin harta, kaya harga diri! (AHMAD BUMI/STENY)