Ungkap Realita Sosial

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Pil Pahit Politik Hari ini. Sebuah Catatan

Penulisan Micheal N. T. Da'Lopez. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mandira Kupang

Indonesiasurya
Kamis, 23 Oktober 2025 | 07:23:30 WIB
Foto

Seandainya politik benar-benar dimaknai sebagai anugerah, tentu rakyat tidak harus menelan pil pahit sebagaimana yang dirasakan hari ini.

Politik sejatinya hadir sebagai ruang pengabdian dan pelayanan terhadap kepentingan publik. Namun dalam kenyataannya, politik justru sering tampil dalam bentuk yang telah “dibungkus rapi” oleh nafsu berkuasa.

Kekuasaan —diperjualbelikan lewat janji manis di panggung kampanye, terpampang di baliho, dan berseliweran di media sosial maupun media massa.

Dalam lintasan sejarah bangsa, rakyat belum sepenuhnya menikmati kesejahteraan dan kemerdekaan yang sejati, sebab sebagian besar ruang kehidupannya telah dirampas oleh ambisi dan kerakusan para pemegang kekuasaan.

Politik, dalam pandangan klasik, sering disebut sebagai ibu dari kekuasaan. Namun ironisnya, ia juga melahirkan “keadilan” sebagai anak haram, sebab keadilan kerap lahir dari kompromi yang cacat, tawar-menawar yang kotor, serta kepentingan yang tersembunyi.

Dalam konteks ini, pandangan Machiavelli menjadi relevan. Ia menilai bahwa kekuasaan memiliki otonomi yang terpisah dari nilai moral dan agama.

Bagi Machiavelli, seorang penguasa diperbolehkan berbohong, menipu, bahkan menindas, asalkan hal itu dilakukan demi kepentingan negara dan kelangsungan kekuasaan.

Pandangan ini seolah menemukan cerminnya dalam praktik politik Indonesia hari ini—penuh intrik, kepalsuan, dan kompromi moral yang membuat keadilan seringkali terpinggirkan. Kekuasaan akhirnya berubah menjadi supremasi, bukan lagi alat untuk melayani rakyat.
Tidak heran jika di mata rakyat, politik tampak pahit dan kotor.

Analogi yang paling dekat mungkin seperti secangkir kopi : bagi sebagian orang, kopi adalah kenikmatan; bagi yang lain, ia bisa menjadi penyebab penyakit lambung. Ada yang memandang kopi sebagai simbol energi untuk meraih cita-cita, namun juga ada yang menikmatinya sebagai pelarian dari kenyataan yang pahit.

Begitulah politik — ia bisa menjadi sarana menuju kemajuan dan kesejahteraan, tetapi juga bisa berubah menjadi sumber penderitaan, korupsi, dan ketidakadilan yang menggerogoti harapan rakyat kecil.

Lebih jauh, politik Indonesia hari ini beroperasi dalam lingkaran kekuasaan yang didominasi oleh relasi keluarga, kepentingan partai, dan kelompok ekonomi tertentu. Keputusan politik seringkali tidak lagi ditentukan oleh sistem yang sehat, melainkan oleh jaringan oligarki yang berusaha mempertahankan status quo.

Jeffrey A. Winters menggambarkan oligarki sebagai politik pertahanan kekayaan oleh segelintir elite yang menggunakan kekuasaan untuk melindungi kepentingan material mereka. Sementara itu, Wijayanto dari Universitas Diponegoro menilai bahwa sepanjang era reformasi, oligarki politik justru menguat, terutama pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Oligarki menggunakan partai politik sebagai kendaraan untuk menempatkan kader-kadernya di berbagai posisi strategis, memastikan bahwa kebijakan publik tidak mengancam kepentingan mereka. Fenomena ini memperlihatkan bahwa demokrasi Indonesia berjalan di atas rel oligarkis yang mengekang aspirasi rakyat.
Akhirnya, rakyat kecil tetap menjadi pihak yang menanggung konsekuensi dari permainan kekuasaan. Mereka menelan “pil pahit politik” yang terus diproduksi oleh nafsu berkuasa para elit.

Jika demikian, muncul pertanyaan yang menggugah nurani: sampai kapan kita harus percaya pada politik dan kekuasaan yang terus-menerus menyuguhkan rasa pahit yang sama?

Mungkin sudah saatnya politik kembali dimaknai sebagai ruang pengabdian, bukan sekadar medan perebutan kekuasaan. Sebab hanya dengan begitu, rakyat dapat benar-benar merasakan politik sebagai anugerah, bukan kutukan. (Miki Da,Lopez)


Bagikan

KOMENTAR (0)

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *

Berita Foto

Berita Terkini

SMAN 1 Nagawutung Tegaskan Komitmen pada Budaya Ilmiah Lewat Ujian KTI

Karya Tulis Ilmiah adalah ajang yang sangat bermartabat dalam posisi kita sebagai orang terpelajar,” tegasnya di hadap

| Senin, 02 Maret 2026
Nasir di Balauring: Dari Mimbar Ramadan, Wabup Lembata Bicara Iman, Algoritma, dan Pancasila

Dalam kultum yang disampaikannya, Wabup Nasir mengajak jamaah menengok kembali cara para pendiri bangsa merumuskan Indon

| Senin, 02 Maret 2026
Bulan Ramadan 1447 H, PLN Hadirkan Promo Tambah Daya Melalui PLN Mobile

layanan digital PLN Mobile untuk memastikan kecukupan daya listrik di rumah, sehingga aktivitas ibadah dan kebersamaan k

| Senin, 02 Maret 2026
Target Belum Terpenuhi, PT Krakatau Steel Percepat Pembangunan SPPG di Lembata

Proyek ini merupakan kolaborasi antara Badan Gizi Nasional dan PT Krakatau Steel, dengan lingkup pengerjaan mencakup pul

| Sabtu, 28 Februari 2026
Ramadan Penuh Berkah: Kapolres Bulukumba Borong Dagangan UMKM, Bagikan Gratis ke Pengendara

Takjil yang diborong tersebut kemudian dibagikan kepada para pengendara dan masyarakat yang melintas sebagai menu berbuk

| Sabtu, 28 Februari 2026
Wujud Kepedulian Sosial, YBM PLN Salurkan 45 Ribu Paket Bingkisan Sepanjang Ramadan 1447 H,

Program ini berasal dari zakat para pegawai muslim PLN yang dikelola secara amanah melalui YBM PLN

| Sabtu, 28 Februari 2026
Dari Knalpot ke Tajwid: Cara Nyeleneh Polisi Bulukumba Tertibkan Pengendara

Para pelanggar lalu lintas, khususnya pengendara yang tidak menggunakan helm, tidak hanya diberikan teguran, tetapi juga

| Sabtu, 28 Februari 2026
Indeks Berita
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2026 Indonesia Surya
Allright Reserved
CONTACT US Lembata
Lembata, Nusa Tenggara Timur
Telp: +6281334640390
INDONESIA SURYA
Viewers Now: 6